Berita Pilihan

Pendiri Google Ingatkan Sisi Gelap Robot AI

Jakarta – Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan menjadi sorotan salah satu eksekutif tinggi Alphabet, Sergey Brin. Pendiri Google ini mengingatkan sisi gelap AI sebagai ‘bahan baku’ utama pembangun berbagai robot.

Pendiri Google Sergey Brin (kanan) saat berkunjung ke Indonesia. (Anggoro Suryo Jati/detikINET)

Seperti dikutip detikINET dari situs Wired, Minggu (29/4/2018), Brin menyoroti sejumlah kemungkinan buruk terkait AI yang berkaitan dengan keamanan, pekerjaan dan keadilan.

Penjabaran ini dituangkan dalam Founder’s Letter yang dirilis setiap tahunnya. Mesin pembelajaran dan AI memang sudah pernah disebutkan dalam Founder’s Letter sebelumnya. Namun di tahun ini, Brin menjelaskan secara panjang lebar tentang perkembangan terbaru AI yang ia gambarkan sebagai sebuah ‘kebangkitan.’

“Kecerdasan buatan mengalami perkembangan paling signifikan dalam komputasi sepanjang masa hidup saya,” tulis Brin.

Ketika Google didirikan pada 1998 Brin menuliskan bahwa teknik mesin pembelajaran yang dikenal sebagai jaringan saraf buatan, ditemukan pada 1940 dan terinspirasi dari studi tentang otak, merupakan catatan kaki yang terlupakan dalam ilmu komputer.


Kini, metode tersebut menjadi investasi yang dikembangkan dalam kecerdasan buatan. Founder’s Letter ini tidak memuat daftar parsial di mana Alphabet menggunakan AI untuk tugas-tugas seperti mengaktifkan mobil otonom, menerjemahkan bahasa, menambahkan teks ke video YouTube, mendiagnosis penyakit mata, bahkan menciptakan jaringan saraf yang lebih baik.

Brin memperkirakan Alphabet dan perusahaan teknologi lainnya akan lebih banyak menggunakan AI di masa depan. Namun seperti sudah disebutkan di awal, Brin juga menyoroti sisi gelap dunia yang serba otonom dengan berbagai robot yang dibekali AI.

Artificial intelligence: Understanding how machines learn

“Perangkat yang penuh kekuatan juga memunculkan banyak pertanyaan dan tanggung jawab baru. Perangkat AI akan mengubah jumlah pekerjaan, atau bisa digunakan untuk memanipulasi orang,” ujarnya mengingatkan.

“Berbagai kekhawatiran akan muncul mulai dari ‘ketakutan akan kemampuan ala fiksi ilmiah yang jadi nyata’ sampai pertanyaan seperti memvalidasi kinerja mobil yang bisa menyetir sendiri,” sambungnya.

Pernyataan Brin mungkin terdengar seperti Google dan industri teknologi lainnya sedang merenungkan sementara untuk pengembangan AI dan menekan laba dari teknologi ini.

Beberapa karyawan Google mungkin tidak yakin perusahaan mereka berada di jalur yang benar dalam urusan ini. Beberapa waktu lalu, ribuan orang menandatangani surat yang memprotes kontrak Google dengan Pentagon untuk menerapkan mesin pembelajaran ke video dari drone.

Namun Brin tidak membahas lebih lanjut mengenai tantangan tersebut. Dia kemudian menyimpulkan diskusinya tentang sisi gelap AI dengan catatan yang menenangkan.

Tulisan tersebut menunjukkan bahwa keanggotaan Alphabet (dan Google yang berada di bawah naungannya) dalam industri kemitraan di bidang AI, adalah untuk melakukan berbagai penelitian dan membuat software pembelajaran yang tidak jahat, yang keputusannya lebih mudah dipahami manusia.

“Saya berharap teknologi mesin pembelajaran bisa terus berevolusi dengan cepat, dan Alphabet bisa terus memimpin baik di urusan teknologinya maupun evolusi etika dalam AI,” tutup Brin.

 

Penulis: Rachmatunnisa
Sumber: detikInet

 

Comments
To Top