Artikel dan Tulisan

Tawangsari Kampoeng Sedjarah, Markas Gerilya Rakyat Kota Malang

Tawangsari Kampoeng Sedjarah. Dok Abdul Malik - Penulis Seni Budaya

KETIKA suatu bangsa kehilangan toponimi maka bangsa itu hilang. Ismail Lutfi, sejarawan dari Universitas Negeri Malang menyatakan hal tersebut dalam kegiatan Diskusi dan Brainstorming Penyusunan Rencana Induk Pelestarian Cagar Budaya Kota Malang di Hotel Pelangi, Malang (26/3/2018). Salah satu toponimi yang mulai dilupakan warga Kota Malang adalah Tawangsari.

Peta terbitan Belanda dari FDK Bosch bertiti mangsa tahun 1924, mencatat nama dusun Ketawangsari. Saat ini, Dusun Tawangsari dan Dusun Pilang adalah dua dusun di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Agar nama dusun tersebut tidak hilang maka Komunitas Reenactor Ngalam menggagasnya sebagai nama Kampung Tematik “Tawangsari Kampoeng Sedjarah”.

MARKAS GERILYA RAKYAT KOTA

Hal menarik dari Tawangsari adalah sebuah rumah di Jl.Sumbersari gang 3 Nomor 190, yang diyakini sebagai Markas Gerilya Rakyat Kota (GRK) Malang. Milik pasangan suami istri Pak Tamsir dan Ibu Kamsani.Tahun 1978-an saat melihat tivi, Bu Kamsani tak sengaja melihat sosok Soemitro dalam salah satu tayangan. Spontan beliau berkomentar “Orang itu sering rapat di rumah ini.” Informasi tersebut disampaikan Sofyan Harianto, cucu Ibu Kamsani. “Rumah tersebut dipinjam Pak Soemitro yang menyamar sebagai Pak Tasrip agar bisa menggunakan rumah tersebut sebagai markas komando gerilya “.

Cerita tersebut kini menjadi ingatan kolektif warga Tawangsari.Bukti foto saat Soemitro mengadakan pertemuan di rumah tersebut masih belum ditemukan.Pak Tamsir dan Ibu Kamsani sebagai saksi sejarah, sudah berpulang. Kondisi rumah tempat pertemuan Pak Soemitro dan Gerilyawan Rakyat Kota Malang, sudah berubah. Sebagian dinding rumah dan pintu samping masih asli. Saksi bisu sejarah yang tertinggal adalah gerobok, tempat menyimpan piring. Dan gerobok tersebut akan menjadi salah satu memorabilia dalam Museum Reenactor Ngalam di Tawangsari Kampoeng Sedjarah.

Sebuah rumah di Jl.Sumbersari gang 3 Nomor 190, yang diyakini sebagai Markas Gerilya Rakyat Kota (GRK) Malang.Dok.Abdul Malik

Selain ingatan kolektif yang tersimpan dalam benak warga, dunia riset akademis juga mencatat keberadaan Tawangsari. Drs. Nur Hadi, M.Pd, M.Si, dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang telah membukukan risetnya bertajuk Sejarah Brigade IV.


“Ketika Malang diduduki Belanda, ada Gerilya Rakyat Kota Malang, tahun 1946-1948, pos komandonya di daerah Sumbersari, dipimpin Soemitro (Jenderal, mantan Pangkopkamtib) dengan nama Tasrip. Penggunaan bahasa walikan digunakan dalam perjuangan tersebut. Saat Malang menjadi kota pendudukan, Belanda tidak pernah tidur nyenyak. Perjuangan kera-kera Ngalam yang digerakkan dalam bentuk Gerilya Rakyat Kota Malang bisa terjadi setiap waktu,” demikian penjelasan Pak Nurhadi menukil hasil penelitiannya tahun 1992-1997.

Pak Nurhadi menambahkan bahwa ketika menggali data termasuk mewawancarai Jenderal Soemitro tidak secara khusus menyangkut Gerilya Rakyat Kota, termasuk rumah kediaman Pak Soemitro di daerah tersebut. “Tetapi memori kolektif masyarakat adalah sebuah temuan penting, saya baru mengetahui tempat tersebut belakangan.

 

Gerobok, tempat menyimpan piring di Markas Gerilya Rakyat Kota (GRK) Malang. Dok.Abdul Malik

MUSEUM REENACTOR NGALAM
Gedung Museum Reenactor Ngalam terletak di dekat Makam Muslim RW 1 Kelurahan Sumbersari. Di sudut makam ada tulisan KAMPOENG SEDJARAH. Disamping makam ada jalan setapak.Di ujung jalan setapak ada gedung bercat putih.Di dekat gedung ada sungai yang membelah Tawangsari dan Karangbesuki.

Eko Rody Irawan, pengurus Reenactor Ngalam menjelaskan bahwa Museum Reenactor Malang nantinya akan fokus pada Sejarah tahun 1945-1949. “Kami sedang berupaya menata display museum. Isi museum nantinya replika senjata, kostum, pakaian gerilya, buku-buku, foto-foto, film indie dan benda-benda yang terkait. Kami berharap keberadaan Museum Reenactor Ngalam dapat menumbuhkan semangat patriotisme dan nasionalisme warga.” Pembangunan Museum Reenactor Ngalam didapatkan dari uang hadiah setelah Tawangsari Kampoeng Sedjarah masuk 15 besar Kampung Tematik yang diadakan Pemerintah Kota Malang tahun 2017.

Eko Rody Irawan di depan Museum Reenactor Ngalam di Tawangsari Kampoeng Sedjarah.Dok.Abdul Malik

MARKAS REENACTOR NGALAM

 

 

 

Dok.Abdul Malik

Salah satu venue yang mengasyikkan saat berkunjung ke Kampoeng Sedjarah Tawangsari adalah Markas Reenactor Ngalam di Jl.Sumbersari gang 4 Nomor 62. Tempatnya di belakang Warung Barokah, milik orang tua Mohamad Fariz, pengurus Reenactor Ngalam.Di ruangan berukuran 5 x 4 meter tersebut, tersimpan berbagai replika senjata, pakaian, buku-buku, cutting welt, bor duduk, mesin gerinder.

Di pintu masuk tertulis Laskar Ra’jat Perkoempoelan Sedjarah. Ada gambar merah putih dan bambu runcing. “Di ruangan ini kami menyimpan replika yang dipakai pejuang, Belanda antara lain Steyer (Carabean, senapan laras panjang buatan Belanda), Arisaka (senapan laras panjang Jepang), meriam Belanda Bohler, bronze belt , kopel belanda, WW II small arm, senjata-senjata perang dunia II dari Jerman, Italia, Rusia, foto-foto reka ulang, bambu runcing, film indie, kostum pejuang, kostum pasukan Jepang, Belanda, buku-buku antara lain Biografi AH Nasution, KNIL Bom Waktu Tinggalan Belanda, Penerbang Angkatan Laut Jepang karya Osamu Tagaya dan John White” demikian penjelasan rinci Mohamad Fariz, alumnus Institut Teknologi Nasional (ITN), Malang. Seluruh koleksi akan diboyong ke Museum Reenactor Ngalam.

Markas Reenactor Ngalam di Jl.Sumbersari gang 4 Nomor 62.Dok.Abdul Malik

Satu lokasi dengan Markas Reenactor Ngalam ada Warung Barokah yang menyediakan menu prasmanan, rasa masakannya nikmat dengan harga terjangkau. Buka pukul 08.30-20.00 wib, Sabtu-Minggu tutup.

Buku-buku referensi.Dok.Abdul Malik

Di ruangan berukuran 5 x 4 meter tersebut, tersimpan berbagai replika senjata, pakaian, buku-buku, cutting welt, bor duduk, mesin gerinder. Dok.Abdul Malik

Eko Rudy Irawan (45), Sofyan Harianto (35), Mohamad Fariz (43) adalah episentrum dari Komunitas Reenactor Ngalam. Mereka telah merintisnya sejak tahun 2007. Eko Rudy Irawan menuturkan bahwa Reenactor adalah pelaku dari kegiatan Historical Reenacment yaitu suatu kegiatan kajian sejarah dengan titik berat kegiatan berupa reka ulang sejarah. Bersifat pendidikan atau hiburan dimana orang mengikuti rencana/skrip untuk menciptakan kembali aspek sebuah peristiwa atau periode sejarah tertentu.

Festival Tawangsari Kampoeng Sedjarah Jilid III, 20-24 September 2017.Dok. Reenactor Ngalam

Kegiatan Reenactor Ngalam mendapat dukungan penuh dari Bapak Achiyat Hadi Supriyanto, S.Sos, Lurah Sumbersari.

Selain sebagai penggagas Kampung Tematik Tawangsari Kampoeng Sedjarah, Reenactor Ngalam juga terlibat aktif dalam berbagai kegiatan di berbagai kota:Parade Juang (Surabaya), Napak Tilas Pertempuran 10 November 1945 (2011), Serangan Umum 1 Maret (Jogjakarta), Bandung Lautan Api, Hari Veteran (Jakarta, 2015), Napak Tilas Gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman (Kediri-Bajulan, 2013).

Berkunjung ke Tawangsari Kampoeng Sedjarah kita akan mendapatkan edukasi Cara Sinau Sejarah Jaman Old di Jaman Now. Belajar sejarah adalah sesuatu yang menyenangkan.Kita bisa mengunjungi Museum Reenactor Ngalam yang fokus pada memorabilia Sejarah Indonesia tahun 1945-1949; rumah markas Gerilya Rakyat Kota Malang tempat Soemitro mengadakan pertemuan dengan para gerilyawan; menikmati pentas seni tradisi, film indie, kuliner dan jajanan tradisional dan reka ulang sejarah dalam Festival Tawangsari Kampoeng Sedjarah di bulan September.

Dok. Abdul Malik

Festival Tawangsari Kampoeng Sedjarah Jilid III, 20-24 September 2017.Dok.Syah Anton Nee, Reenactor Ngalam

Dok. Abdul Malik

TIPS MENUJU LOKASI

a. Ada 4 akses menuju Kampung Sedjarah Tawangsari:

1. Jl.Sigura-gura gang VI. Bagi yang membawa mobil atau bis, lahan parkir luas.
2.Jl.Sumbersari gang 3. Bagi yang membawa sepeda motor.
3. Jl.Sumbersari gang 4. Bagi yang membawa sepeda motor.
4.Depan Balai RW 1 Kelurahan Sumbersari, belakang asrama putri Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim. Bagi yang membawa sepeda motor.

b. Terjangkau kendaraan umum. Menggunakan ojek/taksi online lebih mudah.

Dok. Abdul Malik

Dok. Abdul Malik

Lokasi: RT 12 RW 1 Kelurahan Sumbersari

Buka : pukul 10.00-16.00 wib

Waktu terbaik berkunjung : Sabtu, Minggu

Fasilitas: Gedung Museum Reenactor Ngalam, Markas Laskar Ra/jat Perkoempoelan Sedjarah, warung makan harga terjangkau, warung kopi, cafe, musholla, lahan parkir.

Agenda rutin: Festival Tawangsari Kampoeng Sedjarah di bulan September (telah tiga kali dihelat)

Website dan blog:

https://kelsumbersari.malangkota.go.id

https://tawangsarikampoengsedjarah.wordpress.com

Narahubung: Eko Rody Irawan 0857 85205591

Artikel ini ditulis sebagai salah satu bahan pembuatan buku “17 Kampung Wisata Tematik di Kota Malang, hasil kerja bareng Bolang Kompasiana bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, 2018

Penulis: Abdul Malik

Comments
To Top