Artikel dan Tulisan

Kampanye CELUP, Sebuah Salah Paham Pemanfaatan Teknologi

Belum lama ini beredar sebuah kampanye kontroversial yang diklaim oleh pencetusnya sebagai langkah untuk memberentas asusila. CELUP, merupakan akronim dari “Cekrek, Foto, Upload”. Singkatnya, kampanye ini mengajak siapapun yang memiliki akses kamera untuk mengabadikan gambar pasangan yang tengah bermesraan di ruang publik, kemudian dilaporkan dan diunggah untuk memberi efek jera.

Selain kampanye anti-asusila, CELUP juga diupayakan untuk mengembalikan fungsi ruang publik yang semestinya, yakni penghijauan dan tempat bersantai, kecuali pacaran. Mungkin begitulah ada di pikiran pihak di balik kampanye ini.

Beredar pula brosur bertuliskan “Pergokin Yuk! Biar Kapok” dengan ilustrasi seseorang sembunyi-sembunyi memotret pasangan yang tengah asyik berduaan di taman.

Ditambah sebuah deskripsi singkat “Jika kamu menemui sepasang kekasih berbuat tindak asusila di tempat umum dan merasa terganggu maka segera laporkan dengan mengikuti gerakan sosial ini.”

Siapa pihak dibalik kampanye CELUP?

Akun resmi Instagram CELUP yang kini sudah tidak bisa diakses (credit: Plastic Death)

Akun resmi Instagram CELUP yang kini sudah tidak bisa diakses (credit: Plastic Death)

Menurut berita yang diturunkan Jawa Pos, kampanye ini dibuat oleh mahasiswa semester 5 jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPN Jatim). Koordinator kampanye diketahui bernama Fadhli Abdurrahman Zaky.


Zaky mengatakan sudah melakukan kampanye sebanyak lima kali di tempat-tempat strategis. Termasuk pemutaran film dan talk show. CELUP mengajak masyarakat foto anak usia SMP-SMA yang tengah pacaran untuk kemudian diunggah ke media sosial.

Sebagai landasan hukum, CELUP membawa Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Pasal 76E yang menjerat pelaku tindakan asusila dengan hukuman penjara 5 tahun atau denda paling banyak 5 milyar.

Iming-iming hadiah

Hadiah yang ditawarkan CELUP jika berhasil mengabadikan tindakan asusila

Hadiah yang ditawarkan CELUP jika berhasil mengabadikan tindakan asusila

Siapapun boleh mendaftar dalam kampanye CELUP melalui official account LINE. Setiap 1 foto yang dikirim bernilai 100 poin, sementara hadiah pulsa Rp 25.000 bisa didapatkan dengan menukar 300 poin, dan satu buah kaos bernilai 500 poin. Partisipan bisa menukarkan hadiah di booth yang telah ditunjuk.

Selain itu ada pula sticker LINE bernama “Potrait Report Upload” yang juga diinisiator oleh CELUP. Untuk mendapatkannya bisa membeli dengan harga 10 koin LINE atau setara Rp 3.000. Titik menariknya ada di bagian deskripsi bertuliskan, “pernahkah kamu iri terhadap seseorang yang sedang jatuh cinta?”. Seolah menjadi sarana bagi yang jomblo untuk melampiaskan ketidaksukaannya pada orang yang sudah memiliki pacar.

Merusak privasi, menjadi paparazi

Orang akan berbondong-bondong mencari mangsa untuk difoto (credit: Public Domain Pictures)

Orang akan berbondong-bondong mencari mangsa untuk difoto (credit: Public Domain Pictures)

Menurut OA LINE CELUP, partisipan harus mengirim foto dengan kriteria mengandung tindakan asusila seperti merangkul, mencium, petting, atau bahkan hubungan intim. Masalahnya adalah, sejak kapan merangkul termasuk tindakan asusila? Lalu, apakah dibenarkan mengambil gambar seseorang tanpa izinnya?

Kampanye CELUP sangat tidak etis untuk kenyamanan privasi. Bayangkan, ada seseorang di tempat publik yang selalu siap kamera untuk menangkap momen yang ia tunggu-tunggu, yang tak lain adalah tindakan seperti disebutkan di atas. Orang itu rela menjadi paparazi, mengganggu privasi, hanya demi mendapat poin yang dimana hadiahnya tidak sebanding dengan dampak psikologis yang dirasakan korban.

Tindakan ini juga menuntun pada sifat prasangka negatif dan aksi spontanitas. Tidak perlu berpikir terlalu dalam, asalkan persyaratan subjek ditemukan, maka segera foto, laporkan, lalu upload. Padahal kita tidak mengetahui secara persis siapa orang dalam foto itu, latar belakangnya, statusnya, dan motivasinya. Belum lama ini juga tersiar kabar video dua laki-laki yang kelihatan bermesraan dan dikira gay, ternyata adalah adik kakak yang telah lama berpisah dan baru bertemu.

Artinya CELUP sendiri lebih memilih tindakan gegabah dibanding mengonfirmasi terlebih dahulu. Jika sekalipun itu memang benar adalah asusila, namun orang yang diunggah fotonya tentu tidak rela ia masuk dalam daftar khusus dengan stigma negatif. Apalagi hal tersebut sangat mungkin berujung pada cyberbullying dan mempengaruhi sudut pandang masyarakat terhadap korban di dunia nyata.

Dasar hukum salah, malah terancam ditindak secara hukum

Poster yang diunggah CELUP di akun Instagram-nya

Poster yang diunggah CELUP di akun Instagram-nya

Entah apakah pencetus CELUP telah lebih dahulu berkonsultasi dengan ahli hukum, namun dasar hukum yang mereka pakai malah menjadi bumerang bagi aksi itu sendiri.

CELUP menggunakan UU Nomor 35 Tahun 2014 Pasal 76E sebagai dasar pembenaran aksinya. Sayangnya, sangat koordinator menargetkan foto pasangan berusia SMP-SMA dimana umumnya berusia 18 tahun ke bawah. Dengan begitu, dasar hukum yang digunakan sudah gugur sebab hanya berlaku pada orang dewasa.

Sudah ada hukum perlindungan anak, memposting foto pribadi mereka ke khalayak umum sama saja bunuh diri sebab banyak organisasi perlindungan anak siap mengawal proses hukum si pengunggah foto.

Sebaliknya, kampanye CELUP sangat mungkin akan menemui meja hijau. Salah satu syarat foto ialah harus mengandung tindakan asusila, seperti ciuman, hingga hubungan intim. Justru jika diposting, CELUP akan berurusan dengan undang-undang pornografi di internet.

Korban yang merasa nama baiknya dirusak oleh kampanye ini bisa menggunakan UU Nomor 11 Tahun 2008 Pasal 27 yang melarang penyebaran dokumen kesusilaan di media elektronik, serta pernyataan pencemaran nama baik.

Kemudian Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta menyatakan bahwa pendistribusian foto hanya boleh dilakukan instansi yang berwenang. CELUP bukanlah instansi tersebut yang bisa memposting foto asusila seenaknya.

Bukan cara yang tepat jika menemui tindakan asusila

Mengunggah foto tidak menyelesaikan masalah, justru menambah masalah baru (credit: Wokandapix)

Mengunggah foto tidak menyelesaikan masalah, justru menambah masalah baru (credit: Wokandapix)

Secara tidak langsung, CELUP mendikte publik dengan mengabadikan aksi di luar norma, semisal berhubungan intim di tempat umum. Bayangkan jika telah lama beroperasi, berapa banyak koleksi video yang dimiliki pihak dibalik kampanye ini?

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa gaya pacaran kids zaman now sudah tidak sesuai lagi dengan norma kesusilaan yang berlaku. Tetapi mereka sendiri juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya, sebab kemungkinan besar mereka tidak menerima didikan yang benar, ditambah banyak pengguna media sosial yang gemar pamer kemesraan (berlebihan) dan dilihat oleh pengguna di bawah umur. Bisa dibilang, orang dewasa juga berkontribusi atas kerusakan moral yang terjadi belakangan.

Jika melihat pasangan yang sudah “kelewat batas”, menegur adalah cara terbaik yang bisa kita lakukan. Sementara jika difoto, apalagi dikirim ke CELUP dan diposting ke media sosial pada akhirnya hanya merusak privasi, menimbulkan cyberbullying, dan pelanggaran hukum.

Tidak layak mempermalukan orang lain karena kesalahannya yang bersifat pribadi. Dalam kasus terburuk, bisa saja korban menjadi depresi dan memilih bunuh diri. Lagi, apakah CELUP sempat memikirkan dampak sosial yang terjadi atas kampanye ini?

Pada akhirnya, persekusi bukanlah solusi. Teknologi diciptakan untuk mempermudah kehidupan, bukan mempermalukan orang pacaran. Ranah privasi bukanlah konsumsi publik, mirisnya si penggagas adalah mahasiswa “terdidik”.

Penulis oleh Christian Dwi Wijaya.

Comments
To Top
WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com