Dunia Hiburan

Melihat Rumah Kuno Peninggalan Belanda di Koridor Kayu Tangan Malang

Koleksi foto keluarga pemilik rumah kuno peninggalan Belanda di Koridor Kayu Tangan, Kota Malang.

MALANG – Rumah yang ada di Jalan Jenderal Basuki Rahmat nomor 31 Kota Malang, Jawa Timur itu masih berdiri sempurna. Arsitektur model kuno dengan warna dinding yang mulai kusam menandakan bahwa rumah itu merupakan peninggalan masa silam.

Ya, rumah itu diperkirakan dibangun pada masa penjajahan Belanda. Tepatnya sebelum tahun 1924. Sebab pada tahun itu, rumah itu sudah ada dan sudah berpindah-pindah kepemilikan.

Rumah yang ada di koridor Kayu Tangan, sebuah kampung tua di Kota Malang itu kerap disebut Rumah Namsin. Merujuk pada nama seorang berkebangsaan China yang pernah menjadi pemilik rumah tersebut.

Pada tahun 1975, Namsin melepas kepemilikan rumah itu kepada keluarga Siho Ismanto. Sampai sekarang, rumah itu masih menjadi milik keluarga Siho dan sudah ditetapkan sebagai bangunan kuno yang bertahan di Kota Malang.

KOMPAS.com/ANDI HARTIK Salah satu rumah kuno di Jalan Ijen, Kota Malang, Jawa Timur saat diabadikan pada Senin (30/10/2017). Bangunan rumah itu menunjukkan bahwa kawasan sekitar Jalan Ijen merupakan kawasan elit dan mandiri pada masa Hindia Belanda.

KOMPAS.com/ANDI HARTIK
Salah satu rumah kuno di Jalan Ijen, Kota Malang, Jawa Timur saat diabadikan pada Senin (30/10/2017). Bangunan rumah itu menunjukkan bahwa kawasan sekitar Jalan Ijen merupakan kawasan elit dan mandiri pada masa Hindia Belanda.

“Setelah dibeli pada tahun 1975, direnovasi tiga tahun dan pada tahun 1978, ditempati buat keluarga,” kata keturunan ketiga Siho, Yehezkiel Jefferson Halim, Minggu (17/12/2017).


Pria kelahiran 2001 itu mengatakan, renovasi yang dilakukan oleh pendahulunya tanpa mengubah bentuk asli bangunan. Renovasi hanya dilakukan pada sejumlah jendela dan dinding yang rusak akibat perang di masa awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Sementara bagian bangunan lainnya masih tetap mempertahankan yang lama. Seperti pintu dan sejumlah bagian lainnya. Pintu yang dipakai dalam bangunan itu salah satunya terdiri dari kaca dengan lapis timah sebagai penahan.

Ada delapan ruangan dalam bangunan berlantai dua itu. Empat dilantai bawah dan empat di lantai atas. Di lantai bawah, ruangan terdiri dari ruang utama, kamar tidur dan dua kamar di bagian belakang yang diperuntukkan bagi pembantu.

Sedangkan di lantai atas terdiri dari ruang pertemuan, dan tiga kamar tidur. Setiap ruangan berkesinambungan. Termasuk kamar tidur. Ada berbagai pintu yang digunakan untuk menghubungkan satu ruang dengan ruang lainnya.

Furnitur di rumah itu juga masih merupakan furnitur kuno. Seperti tempat tidur di masing-masing kamar, lemari, meja, kursi, kursi goyang, alat jahit, telepon, penanggalan dan perabot lainnya.

Sumber Foto: Kompas.com | Mesin jahit yang ada di rumah kuno peninggalan Belanda di Koridor Kayu Tangan, Kota Malang

Sumber Foto: Kompas.com | Mesin jahit yang ada di rumah kuno peninggalan Belanda di Koridor Kayu Tangan, Kota Malang

Hanya saja, seluruh peralatan rumah tangga itu sudah tidak terpakai karena rumah itu sudah tidak ditempati. Belum dipastikan tentang penggunaan rumah itu untuk ke depannya.

“Belum tahu. Masih sedang dibicarakan. Tapi selama ini memang tidak ditempati,” kata siswa di Kelas XI di SMA Katolik Santa Maria Kota Malang itu.

Akdemisi Arsitektur pada Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang yang juga sebagai Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang, Budi Fathony mengatakan, bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 220 meter persegi itu merupakan salah satu bangunan kuno di koridor Kayu Tangan yang masih bertahan dengan bentuk aslinya.

“Satu-satunya menurut saya yang masih bertahan. Masih satu yang tipologi hunian. Yang lain lagi masih kita petakan,” katanya.

Budi mengatakan, arsitektur pada bangunan itu menunjukkan bahwa pemilik awal bangunan itu adalah seorang berkewarganegaraan Belanda. Sebab, bangunan itu memperlihatkan kepedulian pemiliknya terhadap adanya sirkulasi udara dengan jendela dan jarak ruangan yang cukup tinggi.

“Itu untuk sirkulasi udara. Supaya sirkulasi udara lebih mudah. Itu lah perencanaan Belanda, memperhatikan lingkungan,” katanya.

Pihaknya mengaku sedang bernegosiasi dengan keturunan pemilik rumah tersebut supaya bangunan itu bisa digunakan sebagai tempat museum bangunan kuno.

Sumber: Kompas.com | Penulis: Andi Hartik | Editor: I Made Asdhiana

Comments
To Top