Artikel dan Tulisan

Sekilas tentang Difteri, Gejala dan Pengobatanya

Baru saja terjadi kasus luar biasa di Jawa Timur terkait penyakit Difteri. Program imunisasi nasional tidak mencapai sasaran? Untuk lebih lanjut kenali terlebih dahulu apa itu Difteri dan merupakan penyakit seperti apa. Beriku beberapa sedikit informasi yang bisa dijadikan masukan untuk mengenali lebih lanjut tentang Difteri yang dikutip dari – Klikdokter.com

Pengertian

Sumber Foto: Google.com

Sumber Foto: Google.com

Difteri merupakan penyakit infeksi akut yang sangat menular dan bisa mengancam nyawa jika tidak segera ditangani. Difteri biasanya terjadi pada tenggorokan, hidung, terkadang pada kulit dan telinga.

Komplikasi

Jika difteri tidak segera diatasi, komplikasi yang mungkin bisa terjadi adalah:

  • Masalah pernapasan: Sel-sel yang mati akibat racun yang diproduksi bakeri difteri akan membentuk jaringan berwarna abu-abu. Jaringan ini dapat menghambat pernapasan.
  • Kerusakan jantung: Selain paru-paru, racun difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan masalah, seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak.
  • Kerusakan saraf: Racun dapat menyebabkan penderita sulit menelan, mengalami masalah saluran kencing, kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki.
  • Difteri hipertoksik: Difteri ini merupakan komplikasi yang terparah, karena dapat memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal.

 


Diagnosis

Diagnosis difteri dapat melalui wawancara pasien dan pemeriksaan fisik. Cara yang lebih akurat untuk mengetahui penyakit ini adalah dengan identifikasi menggunakan flourescent antibody technique, yakni menambahkan pewarna ke jaringan yang ingin diperiksa. Jika terdapat racun atau bakteri, maka dalam jaringan tersebut akan timbul warna yang bersinar.

Sumber Foto: Google.com

Sumber Foto: Google.com

Gejala

Gejala penyakit difteri dapat muncul dengan tanda-tanda timbulnya nyeri di tenggorokan dan demam. Saat terkena difteri, pada lapisan selaput lendir di saluran napas akan terlihat lapisan tipis bewarna putih keabu-abuan yang menempel erat. Jika diambil paksa, akan menimbulkan perdarahan di dalam saluran napas.

Baca:  Lem Super untuk Luka Manusia Diciptakan, Bisa digunakan pada Paru-paru Juga!

Jika tidak ditangani segera, kondisi ini dapat menyebabkan saluran napas membengkak, sehingga menganggu jalan napas. Penderita akan kesulitan bernapas bahkan berujung gagal napas. Akibat terburuk, kondisi nyawa pun terancam.

Gejala yang timbul pada penderita difteri tergantung di mana bakteri tersebut berkembang biak. Difteri sendiri dikenal dengan empat tipe:

  • Difteri Hidung: Bermula dari seperti gejala flu, tetapi kemudian cairan hidung yang keluar tercampur darah sedikit.
  • Difteri Faring dan Tonsil: Berupa radang pada selaput lendir dan tidak membentuk jaringan tipis.
  • Difteri Laring dan Trakea: Pada difteri ini, penderita mengalami kesulitan mengeluarkan suara, sesak napas, napas berbunyi, demam tinggi hingga 40 derajat Celcius, kulit tampak kebiruan, dan pembengkakan pada kelenjar leher.
  • Difteri Kulit: Terdapat luka mirip sariawan pada kulit dan alat kelamin, disertai dengan timbulnya jaringan di atasnya. Pada kondisi ini, luka yang terjadi cenderung tidak terasa apa-apa.

 

Pengobatan

Secara umum, pasien difteri sebaiknya diisolasi sampai masa akut terlampaui, yakni biasanya sampai 2-3 minggu. Dalam masa isolasi ini, pasien harus beristirahat dengan berbaring, mencukupi kebutuhan cairan, menerapkan diet yang sesuai dengan petunjuk dokter, dan menjaga agar napas tetap bebas.

Pasien juga akan diberikan antitoksin anti-diphtheria serum (ADS) yang diberikan segera setelah terbukti terjangkit. Steroid diberikan bila terdapat gejala sesak pada saluran napas. Selain itu, pasien disarankan untuk tidak dirawat di rumah agar tidak menularkan kepada orang lain.

Baca:  Ingin Tukar Elpiji 3 Kg dengan Tabung Pink, Ini Lokasinya

Setelah pulih dari difteri, Anda harus melakukan vaksin difteri secara penuh untuk mencegah kekambuhan. Pernah menderita difteri tidak menjamin Anda akan memiliki kekebalan seumur hidup. Anda bisa mengalami difteri lebih dari sekali jika tidak mendapatkan imunisasi lengkap.

Sumber Foto: Google.com

Sumber Foto: Google.com

Pencegahan

Difteri dapat dicegah dengan pemberian imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus). Imunisasi ini diberikan sebanyak lima kali sejak anak berusia dua bulan hingga enam tahun.

Ada beberapa efek samping dari imunisasi ini. Beberapa anak akan mengalami demam ringan, rewel, terlihat lemah, dan bengkak pada area bekas suntikan. Tanyakan kepada dokter mengenai hal yang perlu Anda lakukan untuk meminimalkan efek samping ini.

Sumber Foto: Google.com

Sumber Foto: Google.com

#Cegah dengan imunisasi

Cara paling efektif untuk mencegah penyakit ini adalah dengan melakukan imunisasi difteri sesuai jadwal, agar vaksin yang diberikan dapat bekerja secara optimal. Di Indonesia data cakupan imunisasi DPT sendiri belum akurat.

Saat ini juga banyak orangtua yang anti vaksinasi. Padahal dengan semakin banyaknya orangtua yang anti vaksinasi, maka kemungkinan penyakit difteri akan menyebar luas di lingkungan dan semakin tinggi risikonya.

Vaksin DPT merupakan vaksin mati, sehingga untuk mempertahankan kadar antibodi di dalam tubuh anak tetap tinggi. Diperlukan pemberian imunisasi ulangan sampai 5 kali pemberian.

#Waktu imunisasi yang tepat

Ada tiga parameter yang harus Anda perhatikan saat memberikan imunisasi DPT, yaitu:

  • Vaksin DPT 1, 2 dan 3.
Baca:  Fintech Layanan Keuangan Berbasis Teknologi

Vaksin DPT ke-1 diberikan paling cepat pada saat anak berusia 6 minggu. Interval pemberian antara vaksin ke-1 menuju vaksin ke-2 dan dari vaksin ke-2 menuju vaksin ke-3 diberikan kembali dengan jarak 4 minggu.

  • Vaksin DPT 4.

Interval vaksin ke-3 menuju vaksin ke-4 diberikan jarak 6 bulan.

  • Vaksin DPT 5.

Vaksin ke-5 diberikan saat usia anak 4 – 6 tahun, sedangkan vaksin ke-4 diberikan saat anak usia kurang dari 4 tahun. Namun jika vaksin ke-4 diberikan saat anak usianya sudah lebih dari 4 tahun, maka vaksin ke-5 diberikan saat anak berusia 7 tahun.

Kontraindikasi pemberian imunisasi DPT adalah terjadinya defisiensi imun (daya tahan tubuh menurun) dan memiliki riwayat syok anafilaktik (serangan reaksi alergi yang tergolong berat).

Sedangkan saat anak demam tinggi atau sedang dirawat, Anda dapat menunda pemberian imunisasi, namun harus dikejar ketertinggalannya, saat anak sudah sehat. Batuk dan pilek bukan hambatan anak untuk tidak diimunisasi.

Penyebab

Difteri disebabkan oleh bakteri berbentuk batang yang bernama Corynebacterium diphtheria. Bakteri ini menyebar melalui tiga rute:

  • Bersin. Ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk, uap yang terkontaminasi akan dilepaskan dan memungkinkan orang di sekitarnya untuk terpapar bakteri tersebut.
  • Kontaminasi barang pribadi. Difteri bisa tertular melalui barang-barang pribadi orang yang terinfeksi. Misalnya, jika menggunakan gelas bekas penderita yang belum dicuci.
  • Kontaminasi barang rumah tangga. Meskipun jarang, difteri juga bisa menyebar melalui barang-barang rumah tangga yang biasanya dipakai secara bersamaan, misalnya handuk atau mainan.

Selain itu, Anda juga bisa terkena difteri apabila menyentuh luka orang yang sudah terinfeksi.

Comments
To Top