Berita Pilihan

Balapan Marut Kelapa di Malang Tempo Doeloe 2017

MALANG KOTA – Aksi memarut kelapa secara masal menandai dibukanya event Malang Tempo Doeloe (MTD) di Jalan Ijen kemarin (12/11) sekitar pukul 07.00. Memarut kelapa bersama-sama yang diberi nama Festival Klapa Jadi Apa ini diikuti 3.000 orang.

Sumber Foto: radarmalang.id

Sumber Foto: radarmalang.id

Mereka terdiri dari para pejabat seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud RI) Prof Muhadjir Effendy MAP, Wali Kota Malang Moch. Anton, Ketua DPRD Kota Malang Abdul Hakim, Kapolres Malang AKBP Hoiruddin Hasibuan, anggota DPRD Kota Malang Yaqud Ananda Gudban, Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Jawa Timur Sri Untari, hingga Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Malang Dewi Farida Suryani yang duduk di panggung, tepatnya di bundaran Simpang Balapan.

Lalu, di depan panggung MTD, ada sekitar 3.000 orang memakai busana jadul yang juga ikut serta memarut kelapa. Pada awalnya Anton terlihat gugup memarut kelapa, sementara pejabat lainnya begitu luwes dan bersemangat hingga menghasilkan parutan yang banyak. Istri Wali Kota Malang Umi Dewi Farida Suryani pun tak mau kalah. Dia terlihat cepat dalam memarut dan menunjukkan kepada awak media jika bisa menghasilkan parutan kelapa yang banyak.

Setelah itu, para pejabat pun berkeliling ke semua stan yang sudah ramai didatangi pengunjung. Mendikbud RI Muhadjir Effendy sempat menggendong seorang bayi berusia 7 bulan yang bernama Hauzan Khusnuk Murod. Muhadjir mendoakan bayi tersebut dengan membacakan surat Al Qariah.

Muhadjir menyatakan, event MTD sangat menarik minat para wisatawan lokal hingga mancanegara. Jadi, ini harus menjadi event tahunan yang digarap dengan baik dan rapi.


”Bisa jadi MTD ini kami masukkan di kalender event wisata nasional sehingga wisatawan sudah tahu jauh-jauh hari untuk datang ke Kota Malang,” kata mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut.

Baca Juga:  Pengguna Android Kini Bisa Pakai 3 Akun Telegram

Dia melanjutkan, Kota Malang ini banyak menyimpan sejarah, mulai dari zaman Kerajaan Kanjuruhan hingga pada masa kemerdekaan Republik Indonesia (RI). ”Potensi inilah yang harus terus digali sehingga generasi sekarang bisa belajar dari event MTD,” terang dia.

Selain itu, Muhadjir juga melihat jika pengunjung MTD 2017 ini belum kompak memakai baju tempo dulu sehingga harus ditata lebih baik lagi ke depannya.

Sementara itu, Wali Kota Malang Moch. Anton sangat bangga dengan MTD ini karena menjadi momentum yang tepat untuk mengenang sejarah di Kota Malang. ”Terima kasih kepada semua pihak sehingga MTD pada tahun ini bisa berjalan dengan lancar,” kata pria yang juga pengusaha tersebut.

Dia menambahkan, untuk tahun berikutnya, MTD bisa dihelat lagi dengan lebih baik sehingga meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Malang. Juga menambah penghasilan bagi banyak pedagang di MTD. ”Kami berharap, MTD bisa menyapa warga dan wisatawan kembali sehingga tidak vakum,” tutupnya.

Untuk diketahui, MTD yang digagas Ketua Yayasan Inggil Dwi Cahyono ini telah vakum selama 6 tahun. Event ini terakhir kali digelar pada 2011 lalu. Kerinduan warga terhadap event MTD inilah yang menggerakan Yayasan Inggil serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang untuk menghelat MTD 2017.
Salah satu pedagang buku lawas, Syarif Oemar, menyatakan, sangat senang dengan MTD yang hadir kembali.

Sumber Foto: radarmalang.id

Sumber Foto: radarmalang.id

”Saya sebagai warga Kota Malang bisa mengenang masa lampau. Selain itu, mengenalkan dokumen-dokumen lawas tentang Kota Malang di stan saya,” kata dia.

Sementara itu, memasuki kawasan Jalan Ijen hingga Simpang Balapan kemarin seperti berada di masa tempo dulu. Beragam warung dengan interior bambu serta atap daun kelapa kering, para penjual menjajakan makanan lawas, seperti nasi tiwul, nasi jagung, hingga nasi punten. Juga ada berbagai jajanan tradisional, mulai dari cenil hingga gulali. Ada juga arsip hingga buku lawas yang dijual di salah satu stan. Semua itu tersaji di acara Malang Tempo Doeloe (MTD) 2017.

Baca Juga:  Android Pay dan Google Wallet Dilebur Jadi Google Pay

Pewarta: Aris Syaiful
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Darmono

Comments
To Top