Artikel dan Tulisan

Ken Arok dan Kutukan Tujuh Turunan

Cerita Rakyat – Ken Arok adalah seorang pemuda yang tampan dari Desa Ganter. Letak Desa Ganter berada di utara Pujon. Meskipun ia dari desa, tetapi ia adalah anak yang istimewa. Ia mempunyai cita-cita yang tinggi. Ia mempunyai tekad yang kuat untuk mewujudkannya. Sayangnya, ia mempunyai watak kurang sabaran. Untuk mewujudkan cita-citanya, ia pergi mengembara. Di perjalanan ia bertemu dengan pendeta bernama Lohgawe. Begitu melihat Ken Arok, Pendeta ini mempunyai firasat bahwa pemuda ini kelak akan menjadi orang besar. Ken Arok pun ditawari untuk menjadi anak angkatnya. Dengan senang hati Ken Arok pun menerimanya. Hampir-hampir ia tidak mempercayai tawaran itu. Dari rakyat biasa, sekarang ia diangkat anak oleh seorang Lohgawe. Di rumah Lohgawe, ia sangat rajin.

ken-arok

Suatu hari, Ken Arok diajak oleh Lohgawe pergi ke penguasa wilayah itu, yakni seorang akuwu bernama Tunggul Ametung. Tunggul Ametung adalah wakil Raja Kertajaya dari Kediri yang ditugaskan untuk memimpin di daerah Malang. Rumah Tunggul Ametung megah. Ia mempunyai istri yang cantik jelita bernama Ken Dedes. Sejak awal, pernikahan Tunggul Ametung dengan Ken Dedes ditentang oleh orang tua Ken Dedes yaitu Empu Purwa. Tunggul Ametung melarikan Ken Dedes. Empu Purwa sangat marah, sehingga ia mengutuk Tunggul Ametung hingga tujuh turunan. Tunggul Ametung tetap pada pendiriannya untuk menikahi Ken Dedes. Itulah sebabnya kaum brahmana tidak mendukung kepemimpinan Tunggul Ametung. Apakah kutukan Empu Purwa akan terjadi?

Kembali ke Ken Arok, melihat kemegahan rumah Tunggul Ametung, Ken Arok kagum bukan main. Ketiak bertama melihat Ken Dedes, ia melihat ada cahaya yang keluar dari tubuh wanit itu. Hampir-hampir ia tidak berkedip menyaksikan keanehan ini. Untung, Lohgawe mencolek pundaknya. Ia segera sadar.
Pulang dari rumah Tunggul Ametung, ia segera menanyakan hal ini pada Lohgawe.

“Apakah Paman melihat sinar yang keluar dari tubuh Ken Dedes?” tanya Ken Arok.
“Apakah kau melihatnya, Ken Arok?” Lohgawe terkejut sambil melihat dalam-dalam Ken Arok. Kini keyakinannya bahwa Ken Arok adalah calon orang besar semakin kuat.
“Ya, Paman. Apakah artinya sinar itu”
“itu tandanya bahwa perempuan itu adalah perempuan yang akan menurunkan raja-raja besar” jawab Lohgawe sambil melihat Ken Arok yang manggut-manggut.
Setibanya di rumah, Ken Arok tampak termenung. Rupanya Lohgawe tahu akan hal ini.
“Ada apa Ken Arok?” tanya Lohgawe.
Dengan ragu Ken Arok mengutarakan maksudnya kepada Lohgawe untuk mengubah nasibnya dan keinginannya untuk mengabdikan diri kepada Tunggul Ametung.
“Barangkali itulah jalan hidupmu. Aku merelakan kamu mengabdi kepada Tunggul Ametung. Pesanku, jadilah abdi yang baik.”
Dengan diantar Lohgawe, akhirnya Ken Arok mengabdikan diri kepada Akuwu Tunggul Ametung. Di sini pun, Ken Arok bisa menjadi abdi yang baik. Semua pekerjaannya selalu mendapat pujian dari Tunggul Ametung. Karena itu, dengan cepat ia pun menjadi orang kepercayaan Tunggul Ametung. Lama kelamaan Ken Arok ingin menjadi Akuwu Tumapel. Tapi bagaimana caranya? Setiap hari ia selalu memutar otak untuk mewujudkan niatnya ini.
Selain Ken Arok, ada orang kepercayaan Tunggul Ametung lainnya. Ia bernama Kebo Ijo. Ia mempunyai watak licik dan suka pamer. Selain itu, ia juga bodoh. Kebo Ijo dan Ken Arok bersahabat baik.
“Aku lihat beberapa hari ini engkau kelihatan resah dan sulit tidur. Ada apa?” tanya Kebo Ijo.
“Kebo Ijo, engkau sahabatku yang paling dekat denganku. Bolehkah aku minta pertimbangan kepadamu?” Ken Arok ragu-ragu untuk mengungkapkan perasaannya.
“Engkau ini bagaimana, bukankah kita sudah bersahabat. Apa yang bisa aku bantu?”
“Kebo Ijo, salahkah bila aku ingin jadi akuwu?”
Kebo Ijo tertawa. Tapi setelah itu dia dengan sungguh-sunggh berkata, “Seharusnya, engkaulah yang pantas memerintah Tumapel, bukan si Tunggul Ametung itu.”
“Ah, engkau bergurau” sahut Ken Arok
“Tidak, tidak, Ken Arok. Ini sungguh. Engkau memang lebih gagah menjadi seorang akuwu. Kalau perlu bunuh saja Tunggul Ametung.”
Rupanya perkataan Kebo Ijo ini menjadi jawaban dari keinginan Ken Arok untuk menjadi Akuwu Tumapel. Ia pun merencanakan untuk membunuh Tunggul Ametung.
Di wilayah itu, ada seorang pembuat keris yang terkenal, Empu Gandring namanya. Keris buatannya sangat indah. Semua orang tahu keris buatan Empu Gandring. Tidak sembarangan orang dapat memiliki keris Empu Gandring.


Baca:  Peresmian “Jusuf Kalla Innovation & Entrepreneurship Centre"

Keris-Mpu-Gandring

Mendengar ini, Ken Arok pun berangkat ke rumah Empu Gandring. Ia memesan keris kepada Empu Gandring untuk membunuh Tunggul Ametung. Karena tahu bahwa Ken Arok adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung, maka Empu Gandring menyanggupinya.
“Tolong buatkan untukku keris yang paling bagus” ujar Ken Arok kepada Empu Gandring.
“Untuk membuat keris semacam itu, perlu waktu yang agak lama” jawab Empu Gandring
“Jangan terlalu lama, karena aku sudah tidak sabar memiliki keris yang indah” kata Ken Arok bernada merayu.
“Hamba tidak bisa berjanji, tetapi akan hamba usahakan” dengan rendah hati Empu Gandring menyanggupinya.
Sudah beberapa kali, Ken Arok mendatangi Empu Gandring untuk menanyakan pesanannya, tetapi keris yang dipesan Ken Arok belum jadi. Sudah beberapa kali Ken Arok menagihnya, ternyata keris yang dibuat Embu Gandring baru setengah jadi. Karena tidak sabar, Ken Arok bermaksud mengambil pesanannya. Empu Gandring melarangnya, karena belum selesai. Terjadilah perang mulut. Akhirnya, Ken Arok marah dan menusuk Empu Gandring dengan keris yang belum jadi itu. Empu Gandring pun roboh. Sebelum ajal tiba, Empu Gandring mengutuk Ken Arok.
“Ken Arok, tidak hanya aku yang terbunuh oleh keris itu. Engkau nanti juga akan terbunuh oleh keris itu. Keris itu akan minta korban tujuh nyawa”
Ken Arok tidak gentar mendengar kutukan Empu Gandring. Di dalam benaknya, ia hanya ingin cepat-cepat membunuh Tunggul Ametung agar ia bisa menggantikannya sebagai Akuwu Tumapel. Setibanya di rumah, Ken Arok mencoba menenangkan diri. Ia juga berusaha keras memikirkan bagaimana caranya menghabisi nyawa Tunggul Ametung. Tiba-tiba ia tersenyum penuh arti. Saat Kebo Ijo melintas, Ken Arok segera memanggilnya.
“Kebo Ijo, keris buatan siapa ini?” tanya Ken Arok sambil memperlihatkan keris yang indah itu.
“Hah, keris buatan Empu Gandring. Milik siapa?” melihat keindahan keris itu, Kebo Ijo mencoba menduganya.
“Benar, keris ini buatan Empu Gandring, dan tentu saja ini milikku” jawab Ken Arok.
“Bolehkah aku meminjamnya?”
“Karena engkau teman karibku, tentu saja aku akan meminjamimu. Tapi tolong jangan lama-lama” begitu permintaan Ken Arok.
Ke mana-mana keris itu dibawa-bawa, tidak perduli siang ataupun malam. Apalagi ia suka pamer. Kepada siapa saja, keris itu dipamer-pamerkan.
Tiba-tiba wilayah Tumapel menjadi gempar. Tunggul Ametung ditemukan tewas. Ia tewas oleh keris Empu Gandring yang dibawa-bawa oleh Kebo Ijo. Orang-orang tentu saja menuduh Kebo Ijo sebagai pembunuhnya. Ia langsung dihukum mati, juga dengan menggunakan keris Empu Gandring itu. Melihat ini, Ken Arok tersenyum puas. Ia telah berhasil membunuh Tunggul Ametung.
Ken Arok berhasil menggantikan Akuwu Tunggul Ametung. Tidak hanya itu, ia pada tahun 1222 Masehi mendirikan Kerajaan Singasari. Ia juga memperistri Ken Dedes, mantan istri Tunggul Ametung.

Baca:  Mengatasi Badan Lemas karena Begadang

PAtung-KendedesuNHFy

Dengan didukung oleh kelompok brahmana, Ken Arok berperang melawan kerajaan Kediri. Kerajaan Kediri yang diperintah oleh Kertajaya, dapat dikalahkan Kerajaan Singasari dalam pertempuran di Desa Ganter. Kerajaan Singasari semakin besar dan luas. Ken Arok memimpin Singosari tidak lama. Ternyata kutukan Empu Gandring terus berlanjut. Ia dibunuh oleh Anusapati pada tahun 1227 dengan keris yang dibuat oleh Empu Gandring itu. Anusapati adalah putra Tunggul Ametung dengan Ken Dedes. Ia memang ingin membalas dendam atas kematian ayahnya, Tunggul Ametung. Ia juga ingin membunuh Ken Arok dengan keris yang digunakan untuk membunuh ayahnya.

Sejak tahun 1227 Kerajaan Singasari diperintah oleh Anusapati. Saat Anusapati memerintah Kerajaan Singasari, ada seorang putra Ken Arok yang masih kecil dengan istrinya, Ken Umang. Putra Ken Arok itu bernama Tohjaya. Ketika Tohjaya beranjak dewasa, ia bertanya-tanya, siapa sebenarnya ayahnya. Akhirnya, ia mengetahui bahwa ayahnya, Ken Arok, dibunuh oleh Anusapati. Sejak saat itu ia merencanakan untuk membalas kematian ayahnya. Tahun 1248 Anusapati berhasil dibunuh oleh Tohjaya dengan keris yang sama. Kutukan Empu Gandring ternyata masih berlaku.

Baca:  Ajisaka dan Prabu Dewata Cengkar

Kerajaan Singasari berganti raja, yaitu Tohjaya. Tapi belum satu tahun ia memerintah, tahun 1248 itu juga ia dibunuh oleh Ranggawuni. Tohjaya dibunuh oleh Ranggawuni juga dengan menggunakan keris yang sama. Ranggawuni adalah putra Anusapati. Ranggawuni bersama saudara sepupunya, Mahisa Cempaka, berhasil menggulingkan Tohjaya. Akhirnya, Ranggawuni menjadi raja dan Mahisa Cempaka menjadi wakilnya. Dari sinilah kutukan Empu Gandring itu berakhir, karena keris itu telah memakan tujuh korban. Ternyata, kutukan Empu Gandring sama dengan kutukan Empu Purwa.

Cerita ini termasuk legenda. Ada beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari cerita ini. Pertama, orang harus mempunyai cita-cita yang tinggi dan berusaha untuk mencapai cita-cita itu. Kedua, dalam mencapai cita-cita, orang harus menempuh dengan jalan yang benar. Ketiga, orang yang berbuat jahat pasti akan menerima hukuman. Keempat, orang tidak boleh suka pamer. Kelima, orang tidak boleh mempunyai dendam, karena dendam hanya membawa penderitaan.

Penulis: Prima Zulvarina

Comments
To Top