Cerita dan Dongeng

Asal-usul Nama Malang

balai-kota-angon-kirik

Cerita Rakyat – Tumenggung Alap-Alap semakin kagum kepada Sultan Agung, Raja Mataram. Untuk menaklukkan Surabaya yang terkenal kuat itu, Sultan Agung tidak menyerang langsung ke Surabaya. Ia menaklukkan terlebih dahulu daerah-daerah yang menjadi sekutu Surabaya. Kalau daerah yang mengelilingi Surabaya sudah ditundukkan, baru ia akan menyerang Surabaya yang terkenal kuat itu. Pada tahun 1614 inilah Sultan Agung memerintahkan tentaranya di bawah Patihnya, Tumenggung Suratani, menyerbu ke Jawa Timur. Panglima lainnya yang ikut ialah Pangeran Mangkubumi, Tumenggung Alap-Alap, dan Tumenggung Jayasupanta. Maing-masing dibagi menjadi tiga jalur penyerangan, yaitu jalur utara, tengah dan selatan. Tumenggung Alap-Alap mendapat tugas menaklukkan jalur tengah, yaitu jalur yang melalui Ngantang.

2016_08_05_Profil-Kecamatan-Ngantang-Kabupaten-Malang

Untuk menaklukkan Jawa Timur ini, Sultan Agung mengerahkan sekitar delapan ribu prajurit. Banyak daerah yang dilalui prajurit Sultan Agung sudah takut dengan melihat banyaknya jumlah prajuritnya. Sehingga banyak daerah yang menyerah sebelum berperang melawan Sultan Agung. Tumenggung Alap-Alap segera menghentikan pasukan yang ia pimpin yang hamper mencapai tiga ribu orang itu. Selain hari sudah sore, tenaga mereka terkuras setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan berat ini. Apalagi di hadapan mereka membentang sebuah pegunungan. Perjalanan mereka terhadang oleh pegunungan yang letaknya malang (melintang). Pegunungan ini terdiri atas Gunung Penanggungan, Welirang, Arjuna, Anjasmoro, Kawi dan Gunung Kelut. Biasanya, gunung di Jawa membujur dari barat ke timur mengikuti arah garis pantai selatan. Kali ini tidak, letak pegunungan itu ternyata melintang dari utara ke selatan. Tumenggung Alap-Alap memutuskan untuk mendirikan kemah untuk bermalam.

Setelah kemahnya berdiri, Tumenggung Alap-Alap merebahkan tubuhnya. Ia teringat pesan rajanya, Sultan Agung, agar berhati-hati. Jalur yang ditempuh melalui Ngantang ini memang sulit dilalui karena hutannya masih lebat. Jalannya naik turun karena begitu banyaknya pegunungan. Selain itu, musuh yang akan dihadapi tidak ringan. Esoknya, matahari mulai bersinar. Rasa lelah pasukannya sedikit sirna. Mereka sedikit kembali bugar setelah semalam beristirahat, apalagi setelah mereka menghirup udara pegunungan yang segar. Supaya pasukannya kembali sehat, Tumenggung Alap-Alap memutuskan untuk berkemah beberapa hari lagi di daerah ini.

Setelah dirasa kondisi pasukannya kembali kuat, Tumenggung Alap-Alap memerintahkan kepada pasukannya untuk melanjutkan perjalannya. Mereka mencoba melintasi bukit demi bukit. Saat berada di atas pegunungan paling timur, Tumenggung Alap-Alap begitu terkesima melihat pemandangan yang terhampar di hadapannya. Hanya satu tekad Tumenggung Alap-Alap, ingin menaklukkan daerah yang indah ini.

“Betapa indah dataran tinggi di sebelah timur Gunung Kawi ini,” begitu kata Tumenggung Alap-Alap kepada pembantu setianya sambil tersenyum kagum.
“Ya, Tuan. Apalagi, daerah ini dilewati oleh Sungai Warantas (Berantas) dan Sungai Metro. Makanya, daerah ini terkenal subur,” ungkap pembantu setianya ikut tersenyum.
“Di daerah inilah dahulu pernah berdiri kerajaan Kanjuruan yang dipimpin oleh Raja Gajayana,” kata Tumenggung Alap-Alap.
“Saya dengar, daerah ini juga pernah dikenal sebagai Kabalan. Apakah benar Tuan?” tanya pembantunya.
“Benar. Pada masa lalu daerah ini dikenal sebagai Kabalan, yaitu padepokan putri raja Hayam Wuruk yang bernama Kusumawardhani. Konon di daerah ini juga ada candi Malangkuseswara. Tapi sayang, sekarang tidak ada lagi bekasnya”
Pembantu setianya tampak manggut-manggut.
“Kita perlu berhati-hati untuk menaklukkan daerah ini. Di daerah ini kerajaan Singasari pernah jaya. Yang kita hadapi sekarang bukan orang sembarangan. Saya sedikit khawatir dengan semangat rakyat dan prajurit mereka,” begitu kata Tumenggung Alap-Alap. Sementara itu, pembantunya mendengar dengan seksama penjelasan Tumenggung Alap-Alap.
Jalan yang dilalui tidak begitu terjal, sehingga perjalanan menuruni pegunungan itu tidak menguras tenaga. Beberapa saat kemudian perjalanan mereka terhenti. Ketika akan memasuki daerah Merjosari, mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan. Perjalanan mereka terhalang oleh pohon-pohon yang ditebang malang melintang di tengah-tengah jalan.
“Ternyata kehadiran kita telah diketahui oleh mereka” kata Tumenggung Alap-Alap sedikit menahan marah. Ia segera memerintahkan prajuritnya untuk mengangkati pohon-pohon itu. Sementara itu, sebagian prajuritnya diminta untuk waspada. Siapa tahu ada serangan mendadak dari prajurit lawan. Pekerjaan itu ternyata banyak menyita waktu. Hingga menjelang petang baru semua kayu yang merintangi itu bisa diangkut ke tepi jalan.
Tumenggung Alap-Alap memutuskan untuk kembali berkemah di situ. Ia sekaligus ingin mengamat-amati daerah yang akan diserangnya. Ia segera mengutus beberapa prajuritnya untuk melihat-lihat dan mengamati daerah di kaki gunung Kawi itu.
“Bagaimana keadaan di sana?” tanya Tumenggung Alap-Alap dengan suaranya yang berwibawa.
“Ampun Tuan Tumenggung, ternyata rakyat dan prajurit yang ada di daerah itu menolak dan melawan (bahasa Jawa: malang) kedatangan kita. Mereka sudah dalam keadaan siap perang untuk menyambut kedatangan kita,” jawab prajurit itu dengan sikap hormat.
“Sudah kuduga sebelumnya, rakyat di sini memang tidak bisa disepelekan,” terdengar suara Tumenggung Alap-Alap seperti berbicara dengan dirinya sendiri
“Tapi jangan khawatir, Tuan. Jumlah mereka tidak banyak. Mungkin hanya sepertiga dari jumlah kita,” ungkap prajurit itu mencoba meyakinkan tuannya.
“Meskipun begitu, besok pasukan kita harus dipersiapkan sebaik-baiknya” perintah Tumenggung Alap-Alap tampak mencoba memperingatkan prajuritnya agar waspada.
“Baik, Tuan,” jawab pembantu setianya.

Saat matahari belum menampakkan wajahnya, pasukan Tumenggung Alap-Alap telah bersiap-siap bergerak. Mereka berbaris rapi. Pasukan yang membawa tombak, diikuti oleh pasukan yang membawa pedang dan keris, pasukan pemanah, serta pasukan yang membawa kuda. Maing-masing dipimpin oleh seorang prajurit kepala. Begitu matahari terbit, mereka bergerak ke arah timur. Terompet perang segera ditiup. Genderang pun ditabuh bertalu-talu untuk memberi semangat prajurit Tumenggung Alap-Alap.

Ternyata mereka sudah dihadang oleh pasukan Rangga Toh Jiwa, Bupati yang memerintah daerah itu. Tidak bisa dihindari, terjadilah perang yang sengit. Banyak korban berjatuhan, baik di pihak Tumenggung Alap-Alap maupun penduduk dan prajurit di daerah itu. Hingga menjelang petang, peperangan tidak menunjukkan tanda-tanda berakhir. Saat matahari terbenam mereka menghentikan peperangan. Tumenggung Alap-Alap beserta pasukannya segera kembali ke arah barat. Pasukan Rangga Toh Jiwa juga kembali ke arah timur. Prajurit-prajurit yang luka segera diobati. Tidak sedikit yang mengerang dan menjerit kesakitan. Ada yang terluka oleh tombak, panah, dan pedang. Bahkan ada yang anggota badannya terputus.

Tumenggung Alap-Alap berpikir keras bagaimana caranya mengalahkan Rangga Toh Jiwa. Perkiraannya benar. Rakyat dan pasukan di daerah ini memiliki semangat luar biasa. Dengan jumlah sepertiga dari prajurit yang dipimpinnya, ternyata mereka mampu melawan prajuritnya. Di pihak lain, Rangga Toh Jiwa berusaha memeras otak untuk mempertahankan serangan yang begitu dasyat dari pasukan Tumenggung Alap-Alap. Begitu matahari menampakkan wajahnya, pertempuran dimulai kembali. Suara benturan senjata dari kedua belah pihak terdengar bersaut-sautan. Suara jerit kesakitan sering terdengar. Kuda-kuda yang sudah kehilangan penunggangnya berlarian ke sana ke mari.

Tumenggung Alap-Alap maju terus untuk mencari Rangga Toh Jiwa. Setiap prajurit lawan yang menghalanginya dapat dibabat dengan mudah. Di pihak lain, Rangga Toh Jiwa juga ingin segera bertarung dengan Tumenggung Alap-Alap. Sepak terjangnya menakutkan prajurit Mataram. Tidak berapa lama, mereka bisa saling berhadapan. Tumnggung Alap-Alam meminta Rangga Toh Jiwa untuk menyerah. Rangga Toh Jiwa tidak mau. Baginya, tanah kekuasaannya harus dipertahankan sebisa mungkin. Akhirnya, pertempuran tidak bisa dihindari. Keduanya sama-sama gagah, berani, dan tangkas. Pertarungan mereka berjalan alot. Pada suatu saat, Tumenggung Alap-Alap tampak terdesak, tetapi begitu bisa menghindar, beberapa saat kemudian ganti Rangga toh Jiwa yang terdesak. Meskipun mereka sudah bermandi keringat, tidak ada satu pun di antara mereka yang terluka.

Setelah melalui pertarungan yang sengit, pasukan Mataram sedikit demi sedikit dapat memukul mundur pasukan Rangga Toh Jiwa. Melihat pasukannya terpukul mundur, perhatian Ranga Toh Jiwa menjadi terpecah. Ia memilih mencari bantuan ke Surabaya. Ia segera menghindar dari Tumenggung Alap-Alap dan mengambil kudanya. Ia segera lari sekencang-kencangnya ke arah surabaya. Tumenggung Alap-Alap mengira pasukan lawan segera menyerah, karena pemimpin mereka tidak ada di medan pertempuran. Ternyata dugaannya meleset. Perlawanan dari pasukan dan rakyat daerah itu semakin menjadi-jadi. Hampir saja pasukan Tumenggung Alap-Alap terpukul mundur. Bahkan, di beberapa tempat, banyak pasukannya yang kocar-kacir dan lari tunggang-langgang.

Untung, ia cukup berpengalaman dalam peperangan. Ia segera mengambil tempat yang tinggi dan memberi semangat kepada pasukannya. Suaranya yang lantang dan berwibawa segera terdengar oleh pasukannya. Ia juga berteriak bahwa Rangga Toh Jiwa telah melarikan diri. Pasukan penabuh genderang diperintahkan lebih keras lagi memberi semangat. Pasukannya yang tadinya loyo, sekarang kembali bersemangat. Di pihak lain, perlawanan rakyat dan pasukan daerah itu semakin tidak terkendali, sehingga akhirnya mereka terpukul mundur. Setelah melalui pertarungan sengit, akhirnya mereka menyerah.

Tumenggung Alap-Alap menarik nafas panjang dan dalam. Ia tampak lega.
“Sekarang sudah tidak ada lagi orang-orang yang malang (menolak dan melawan)” begitu ungkap Tumenggung Alap-Alap. Meskipun demikian, ia merasa kagum dengan semangat prajurit dan rakyat di situ. Dengan peristiwa-peristiwa itulah, akhirnya daerah ini oleh orang-orang dinamakan Malang.

122E1

Cerita ini termasuk legenda. Ada beberapa hal yang bisa kita ambil dari cerita ini. Pertama, kita harus berjuang sekuat tenaga untuk membela tanah kelahiran kita. Kedua, kita harus mau mengakui kelebihan orang lain.

Penulis: Prima Zulvarina

Comments
To Top