Cerita dan Dongeng

Bagus Setya dan Bagus Tuhu

Candi Jago Tumpang Malang

Cerita Rakyat – Ketika itu wilayah Malang masih merupakan wilayah kerajaan Jenggala. Di sebelah timur Wajak, tepatnya di daerah Tumpang, hiduplah sepasang suami istri bernama Kyai Durung dan Mbok Asri. Rumah mereka berada di pinggir hutan belantara. Selain bertani, mereka juga mencari kayu bakar di hutan. Kyai Durung dan Mbok Asri dikaruniai dua anak laki-laki, yaitu Bagus Setya dan Bagus Tuhu.

IMG_0308

Sejak kecil kedua anak itu selalu rukun. Ke mana saja mereka bersama. Jika salah satu menemui kesulitan, maka yang lain membantunya. Kerukunan itu memang selalu diajarkan oleh bapak ibunya. Kalau ada perbedaan pendapat di antara keduanya, harus diselesaikan secara arif dan bijaksana. Mereka tidak diperkenankan untuk bertengkar. Kebiasaan saling menyayangi ini terbawa sampai kedua anak itu remaja. Meskipun seorang petani, Kyai Durung adalah orang yang berpandangan luas. Suatu hari Kyai Durung berbincang-bincang dengan kedua putranya.

“Anak-anakku, ketahuilah bahwa hidup di dunia ini tidaklah sendirian. Di sekitar kita banyak sekali macam kehidupan. Ada tumbuhan, ada binatang, ada angin, ada api, ada air, ada pula benda-benda di langit yang kita lihat setiap malam. Kita harus bersahabat dengan mereka.”
Kedua anaknya tertegun mendengar pembicaraan bapaknya.
“Apa maksudnya, Bapak?” tanya Bagus Setya
“Jangan sampai kita merusak alam. Jika alam rusak, mausia pula yang rugi,” kata Kyai Durung sambil membetulkan posisi duduknya,
Anaknya menyambung “O … begitu.”
“Ya.”
Bagus Tuhu bertanya, “Jika demikian, apa yang harus saya lakukan.”
Kyai Durung menjawab, “Kalian harus belajar memahami bagaimana cara menempatkan diri dan hidup di dunia ini. Olah dan manfaatkan sebaik mungkin alam. Carilah ilmu sebanyak mungkin.”

Sejak itu, Bagus Setya dan Bagus Tuhu sering bercakap-cakap tentang alam. Keduanya ingin mencari pengetahuan tentang bagaimana cara hidup di tengah alam. Bagus Setya dan Bagus Tuhu rajin berguru pada orang-orang yang dianggap pandai. Selain itu, kedua anak itu juga tidak lupa mencari ilmu bela diri. Menginjak dewasa, Bagus Setya dan Bagus Tuhu menyadari bahwa mereka bekerja. Pada suatu hari, mereka minta izin untuk bekerja kepada orang tuanya.


“Bapak, rasanya saya dan adik perlu bekerja untuk mencari makan, agar tidak kelaparan.”
“Benar anakku, mencari nafkah memang wajib. Dengan bekerja, kita menyelamatkan tubuh kita dari penyakit dan kelaparan. Bekerja keraslah kalian. Tapi harus diingat, sesuaikan dengan kemampuan kalian.”
Bagus Setya dan Bagus Tuhu menganggukkan kepala hampir bersamaan.
Kyai Durung melanjutkan, “Saya pernah mendengar, di kerajaan Jenggala membutuhkan prajurit. Cobalah kamu berangkat ke sana untuk mengabdi.”
“Di manakah letak Jenggala?” tanya Bagus Tuhu.
“Kalau tidak salah, di Malang selatan.”
“Kalau begitu, kami mohon doa restu Bapak dan Ibu. Kami akan mencoba ke sana.”

Baca Juga:  Kisah Bawang Putih dan Bawang Merah

Hari berikutnya, setelah berpamitan pada bapak dan ibunya, Bagus Setya dan Bagus Tuhu berangkat menuju Jenggala. Setelah dua berjalan, mereka sampai di daerah tempat para putra raja atau panji. Tempat itu dinamakan Kepanjian atau sekarang dikenal sebagai Kepanjen. Mereka melanjutkan perjalanannya ke selatan. Akhirnya, mereka sampai di kerajaan Jenggala. Saat itu sang raja yang bernama Prabu Ajisaka atau Prabu Widayaka sedang berada di pendapa. Prabu Ajisaka sedang berbincang-bincang dengan para nayaka membahas kekurangan prajurit di kerajaan Jenggolo. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan Bagus Setya dan Bagus Tuhu

“Hai, anak muda! Siapa namamu dan dari mana asalmu, serta apa tujuan kalian datang ke mari?”
“Sebelumnya, kami aturkan sembah hamba ke hadapan Paduka Raja. Nama saya Bagus Setya, dan ini adik saya Bagus Tuhu. Kami berasal dari Wajak. Paduka Raja yang mulia, kami mendengar berita bahwa paduka membutuhkan prajurit. Jika diperkenan, kami akan mengabdikan diri di kerajaan Jenggolo ini.”
“Hemm, kebetulan. Saya memang sedang memerlukan prajurit. Sebelum saya mengabulkan permintaan kalian, ada beberapa hal ingin saya ketahui dari kalian.”

Ternyata Raja Jenggolo ingin menguji keterampilan bela diri dan pengetahuan Bagus Setya dan Bagus Tuhu. Untung, semua ini sudah mereka pelajari sebelumnya. Akhirnya, Bagus Setya dan Bagus Tuhu diterima sebagai prajurit di kerajaan Jenggala. Karena keterampilan dan pengetahuan mereka cukup tinggi, keduanya dianugerahi pangkat tumenggung.
Karena kesibukannya di kerajaan Jenggolo, mereka belum sempat pulang ke Wajak. Suatu hari, Bagus Setya rindu kepada bapak dan ibunya. Ia ingin pulang. Begitu rindunya, yang terbayang hanya wajah kedua orang tuanya. Ia segera berpamitan kepada Prabu Ajisaka.

“Aku izinkan kamu untuk pulang. Jangan kembali sebelum engkau bertemu bapak dan ibumu. Setelah bertemu engkau harus segera kembali,” perintah Prabu Ajisaka.
Betapa senang hati Bagus Setya. Sesampai di rumah, ternyata ia tidak mendapatkan bapaknya; yang ada hanya ibunya. Setelah mengaturkan hormatnya, ia menanyakan perihal Bapaknya.
“Bu, ke mana Bapak?”
“Sudah tiga hari ini bapakmu pergi ke hutan. Biasanya sampai satu minggu baru pulang.”
“Kalau begitu, saya akan menyusul Bapak! Saya sudah rindu, ingin bertemu dengan Bapak.”
“Hati-hati di jalan.”
“Ya, Bu!”
Bagus Setya pergi menuju hutan yang ditunjukkan oleh ibunya. Namun sampai dua hari, ia belum berjumpa dengan bapaknya.
Sementara itu di kerajaan Jenggala, Prabu Ajisaka sedang mengadakan pertemuan. Sang raja bertanya kepada Bagus Tuhu, “Tumenggung Tuhu! Mengapa saudaramu belum juga kembali?”
“Hamba tidak tahu, Paduka. Kalau diizinkan, saya akan menyusulnya,” jawab Bagus Tuhu sambil memberikan hormat.
“Kalau begitu, berangkatlah sekarang juga. Jangan sekali-kali kembali ke Jenggala kalau tidak bersama dengan Tumenggung Setya.”
“Baik, Paduka.”

Baca Juga:  Kampung Cempluk Festival "Nguri Nguri Budoyone Dewe"

Tanpa menunggu waktu, Tumenggung Tuhu langsung berangkat ke Wajak. Sampai di rumah ia hanya mendapatkan ibunya.
“Bu, apa Kakang Setya pulang?”
“Ya betul, Nak! Ia sekarang sedang ke hutan menyusul bapakmu. Tapi sudah dua hari ini belum kembali. Coba kamu susul, jangan-jangan ia menemui kesulitan di hutan.”
“Baiklah Bu, saya segera menyusul.”
Bagus Tuhu kemudian segera menyusul kakaknya ke hutan. Setelah lama mencari, akhirnya ia bertemu kakaknya yang sedang kebingungan mencari bapaknya.
“Kakang Setya, saya menyusul ke sini atas perintah Raja. Kakang Setya diharap segera kembali ke Jenggala”
“Hmm, tapi Dik! Saya sedang mencari Bapak. Sudah lama saya tidak bertemu dengannya, rasanya saya sangat rindu sekali dengan Bapak.” Bagus Tuhu menjawab.
“Bagaimana, ya! Saya ini juga sulit. Saya tidak boleh kembali ke Jenggala jika tidak bersama dengan Kakang. Dan … waktu yang diberikan hanya satu hari. Jadi …, bagaimana ya, Kang?” Bagus Tuhu kebingungan.
“Ya … tidak bisa, Dik! Saya tetap harus bertemu dengan Bapak! Paduka Raja juga melarang saya untuk kembali ke Jenggala kalau saya belum bertemu dengan Bapak.”

Keduanya saling mempertahankan pendirian, Bagus Setya menolak diajak ke Jenggolo, sementara Bagus Tuhu terus memaksa. Akhirnya, terjadi perselisihan, dan berkembang menjadi perkelahian. Keduanya sama-sama kuat dan sakti. Mereka bertarung tidak menggunakan senjata tajam, tetapi menggunakan senjata tali dari akar pohon. Pertarungan itu berlangsung cukup lama. Karena sama-sama kuatnya keduanya sama-sama mati. Bagus Setya jatuh dengan posisi membujur, kepalanya berada di sebelah timur. Bagus Tuhu mati dengan posisi membujur dengan kepalanya berada di sebelah utara.

Beberapa saat kemudian, Kyai Durung lewat di tempat tersebut. Mengetahui ada dua orang tergeletak dengan pakaian prajurit keraton, ia menjadi heran. Pelan-pelan kedua orang tersebut diamati. Alangkah terkejutnya ia, ketika ia mengetahui bahwa kedua orang tersebut adalah anaknya sendiri, yaitu Bagus Setya dan Bagus Tuhu. Kyai Durung langsung menangis dan pingsan. Setelah siuman, Kyai Durung segera pulang dan memanggil istrinya. Beberapa orang ikut melihat kejadian itu. Akhirnya, keduanya dimakamkan di tempat itu juga dengan posisi seperti ketika mereka meninggal. Bagus Setya dimakamkan dengan posisi kepala di sebelah timur, dan Bagus Tuhu dengan posisi kepala di sebelah utara.

Baca Juga:  Jatuh Bangun Google Melawan WhatsApp di Bisnis Pesan Instan

Berita kematian Bagus Setya dan Bagus Tuhu menjalar sampai ke Kerajaan Jenggala. Mendengar berita itu, Prabu Ajisaka menyesal telah alpa. Ia telah membuat pernyataan yang bertentangan. Ia segera turun dan melayat ke Wajak. Sesampai di makam kedua tumenggung itu, Prabu Ajisaka memanjatkan doa agar arwah kedua pembesar kerajaan itu diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Di tengah kerumunan orang banyak, Ajisaka berpesan agar kematian kedua tumenggung tersebut harus diperingati. Semua yang hadir menyambut dengan penuh khikmat. Mereka berjanji tidak akan melanggar anjuran Sang Prabu.

Sampai sekarang, kedua makam yang terletak di tengah hutan ini masih dikeramatkan orang. Kedua makam ini terletak di dusun Wanaasri, sebelah timur desa Wajak, kabupaten Malang. Masyarakat Tengger pun ketika hari besar Karo, senantiasa berziarah ke makam Bagus Setya dan Bagus Tuhu.

Cerita ini termasuk legenda. Ada beberapa hal yang bisa kita petik sebagai sesuatu yang berharga. Pertama, orang harus mencari ilmu. Kedua, orang harus memegang erat pada janji. Ketiga, orang tidak boleh membuat janji yang bertentangan sehingga bisa membahayakan orang lain.

 

Penulis: Prima Zulvarina

Comments
To Top