Cerita dan Dongeng

Ajisaka dan Prabu Dewata Cengkar

Cerita Rakyat – Pada zaman dahulu ada seorang satria dari tanah seberang datang ke kerajaan Medangkamulan. Selain tampan, Ajisaka juga baik hati, sakti, dan berilmu tinggi. Di kerajaan Medangkamulan ia tinggal di dusun Dadapan. Saat itu, Medangkamulan diperintah oleh Prabu Dewata Cengkar. Tubuhnya gemuk besar seperti raksasa. Ia mempunyai taring yang cukup panjang. Prabu Dewata Cengkar juga dikenal sebagai raja yang kuat dan sakti.

Itulah sebabnya, semua rakyat dan prajurit kerajaannya takut kepadanya. Wilayah Medangkamulan adalah daerah yang subur. Kerajaan ini terletak di dekat Sungai Brantas. Apa saja bisa tumbuh. Hasil pertaniannya melimpah. Rakyatnya hidup berkecukupan. Sayang seribu sayang, Prabu Dewata Cengkar mempunyai kesukaan yang merugikan rakyatnya. Karena tubuhnya yang besar, Prabu Dewata Cengkar suka makan enak. Setiap makan tidak pernah sedikit. Tidak hanya itu, setiap bulan purnama ia suka makan daging.

img_5247

Daging itu adalah daging manusia. Orang yang dimakan adalah perjaka yang masih muda dan sehat. Dengan kebiasaan rajanya ini, setiap menjelang bulan purnama, penduduk Medangkamulan menjadi takut. Perjaka yang masih muda dan sehat tidak berani keluar rumah. Atas perintah rajanya, prajurit istana terpaksa mencarikan korban untuk persembahan rajanya. Mereka masuk kampung keluar kampung untuk mencari pemuda yang sehat. Karena takut menjadi korban, banyak penduduk Medangkamulan yang melarikan diri.

Penduduk di Medangkamulan semakin hari semakin sedikit. Setiap menjelang bulan purnama, prajurit Medangkamulan tidak hanya mencari pemuda di kerajaan sendiri, bahkan mereka juga mencari ke luar daerah. Berita ini akhirnya terdengar sampai ke dusun Dadapan. Pada saat Ajisaka berjalan-jalan, ia bertemu dengan seorang pemuda yang lari tunggang langgang.


“Ada apa Kisanak?” begitu tanya Ajisaka kepada pemuda yang wajahnya basah oleh peluh.
“Tolonglah hamba, Tuan” jawab pemuda itu terbata-bata.
“Apa yang bisa saya tolong?” ungkap Ajisaka yang baik hati itu sambil memegang bahu pemuda itu untuk mencoba menenangkannya.
“Hamba dikejar-kejar prajurit kerajaan Medangkamulan”
“Mengapa sampai Kisanak dikejar-kejar?” tanya Ajisaka dengan herannya.
Akhirnya, pemuda itu menceritakan perihal rajanya yang suka makan daging orang setiap bulan purnama.
Mendengar cerita pemuda itu, wajah Ajisaka tampak mengeras. Rupanya ia mencoba menahan amarahnya. Beberapa saat ia diam. Ia mencoba untuk berpikir keras mencari akal.
“Kalau begitu, antarkan aku ke rajamu”
“Hamba tidak berani, Tuan. Nanti hamba akan ditangkap dan dijadikan korban”
“Jangan khawatir, aku nanti yang akan menghadapi rajamu”
Karena ia percaya bahwa Ajisaka tulus akan membantunya, pemuda itu akhirnya menuruti permintaan Ajisaka.
Dengan ditunjukkan pemuda itu, akhirnya Ajisaka menghadap ke Prabu Dewata Cengkar. Melihat Ajisaka yang masih muda dan gagah menghadap kepadanya, Prabu Dewata Cengkar menjadi gembira. Matanya jadi berbinar-binar. Tanpa terasa ia menelan ludah berkali-kali, membayangkan lezatnya daging Ajisaka.
“Izinkan hamba mengaturkan hormat hamba ke hadapan Paduka” ungkap Ajisaka dengan sikap hormat setelah ia bersila di hadapan Prabu Dewata Cengkar.
“Ya, ya, aku terima sembah hormatmu. Kamu siapa dan dari mana asalmu?” tanya Prabu Dewata Cengkar sambil tertawa keras.
“Hamba Ajisaka. Hamba dari tanah seberang. Sekarang hamba tinggal di dusun Dadapan” jawab Ajisaka
“Ada perlu apa anak tampan?” tanya Dewata Cengkar dengan sorot matanya yang tidak berkedip memandang Ajisaka.
“Hamba hanya memohon kepada Paduka. Mulai sekarang, Janganlah Paduka mengejar-ngejar pemuda untuk dijadikan santapan setiap bulan purnama. Sebagai gantinya, hamba bersedia menjadi santapan Paduka, tetapi hamba mohon satu syarat.”
Prabu Dewata Cengkar yang semula hendak marah atas keberanian Ajisaka, berganti gembira. Bayangan tentang kelezatan daging Ajisaka sekarang mulai menari-nari di hadapannya.
“Apa yang kamu minta Ajisaka?”
“Sebagai gantinya, hamba minta sebidang tanah seluas ikat kepala hamba di sebelah selatan kerajaan Paduka. Hamba mohon, yang mengukur tanah itu adalah Paduka sendiri,” ujar Ajisaka sambil menunjuk ikat kepalanya yang berwarna putih bersih itu.
Mendengar permintaan Ajisaka, Prabu Dewata Cengkar tertawa terbahak-bahak.
“Hanya itu? Hanya itu? Baik, akan aku turuti” sahut Dewata Cengkar sambil membelalakkan matanya seakan-akan tidak percaya pada permintaan Ajisaka.

Baca Juga:  Bagus Setya dan Bagus Tuhu

Dengan disaksikan oleh seluruh prajurit kerajaan dan rakyat Medangkamulan, Ajisaka dan Prabu Dewata Cengkar mengukur tanah. Ajisaka segera melepas ikat kepalanya. Dua ujung ikat kepalanya dipakukan ke bumi, sedangkan dua ujung lainnya dipegang oleh Prabu Dewata Cengkar.

Mula-mula Prabu Dewata Cengkar merentangkan ikat kepala Ajisaka. Terjadi keajaiban. Ikat kepala itu semakin lebar. Prabu Dewata Cengkar akhirnya bergerak mundur untuk merentang ikat kepala itu. Setelah direntangkan, ternyata ikat kepala itu semakin lama semakin lebar. Semakin direntangkan, ikat kepala itu semakin lebar, hingga menutupi daerah selatan kerajaan Medangkamulan. Tanpa terasa, perjalanan Prabu Dewata Cengkar merentang ikat kepala Ajisaka hingga mencapai pantai selatan.

Setelah mencapai bibir pantai, sadarlah Prabu Dewata Cengkar betapa luasnya tanah yang akan diberikan kepada Ajisaka. Belum sampai ia berkata apa-apa, Ajisaka segera mendorong Prabu Dewata Cengkar ke laut. Tubuh Prabu Dewata Cengkar yang besar itu terlempar jauh ke tengah laut. Begitu kerasnya dorongan Ajisaka, jatuhnya tubuh Prabu Dewata Cengkar ke laut menimbulkan suara gelegar.

Sejenak kemudian suasana menjadi sunyi. Ternyata suasana itu tidak berlangsung lama, tiba-tiba muncul ombak yang cukup besar. Bersama dengan itu muncul buaya putih. Rupanya, Prabu Dewata Cengkar berubah menjadi buaya putih. Buaya itu tampak meronta-ronta. Prabu Dewata Cengkar yang biasa hidup di darat, kelabakan hidup di laut. Rakyat yang selama ini takut dengan Prabu Dewata Cengkar menyambut peristiwa ini dengan suka cita. Mereka segera menyambut Ajisaka. Mereka meminta agar Ajisaka menjadi raja mereka.

Ajisaka pun tidak bisa menolak. Akhirnya, ia menggantikan Prabu Dewata Cengkar menjadi raja di Medangkamulan. Esoknya, penduduk mendapati ada buaya putih yang mati di pinggir pantai. Sampai sekarang, daerah itu disebut Pantai Bajul Mati (Pantai Buaya Mati). Ajisaka pun memperluas kerajaannya menjadi kerajaan Jenggolo. Rakyatnya senang dipimpin oleh raja muda yang tampan, gagah, sakti, dan bijaksana. Mereka hidup sejahtera di kerajaan Jenggolo.

Baca Juga:  Dhoho Street Fashion ke-3, Angkat Potensi Kain Tenun Ikat Khas Kediri

Cerita ini termasuk mite. Ada beberapa hal yang bisa kita dapatkan dari cerita ini. Pertama, Setiap orang harus saling tolong-menolong. Orang yang mau menolong orang lain, pasti akan mendapat balasan yang menyenangkan. Kedua, orang yang menyakiti orang lain, pasti akan mendapatkan balasan berupa hukuman.

Penulis: Prima Zulvarina

Comments
To Top