Berita Pilihan

Borobudur Writers & Cultural Festival “Perayaan Karya”

BY: Borobudur Writers & Cultural Festival

Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) merupakan wahana bagi para penulis, akademisi, peneliti sejarah, arkeolog, jurnalis, pencinta sejarah, mahasiswa dan masyarakat umum. Selain itu juga sebagai wahana pertemuan antar komunitas dan kelompok, untuk menjelajah imajinasi dan bentuk bentuk ekspresinya tentang suatu karya. BWCF ini di dirikan oleh enam orang dari berbagai latar belakang yang berbeda Prof. Dr. Mudji Sutrisno, Yoke Darmawan, Seno Joko Suyono, Dorothea Rosa Herliany, Wicaksono Adi, Imam Muhtarom.

logo-BWCF3

BWFC pertama kali telah diselengarakan pada tahun 2012, dengan menusung tema “Memori dan Imajinasi Nusantara: Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara”. BWCF yang kedua pada tahun 2013 mengangkat tema “Arus Balik: Memori Rempah dan Bahari Nusantara”. Selain dihadiri para penulis berlatar sejarah maritim Nusantara, acara BWCF 2013 juga dihadiri oleh para antropolog, sejarawan, mahasiswa, wartawan, sastrawan, dan masyarakat umum.

BWCF ketiga yang dilaksanakan pada 2014 dengan tema “Ratu Adil, Kuasa, dan Pemberontakan di Nusantara”. Selain seminar sebagai menu utama, diselenggarakan pentas seni tradisi di Balai Seni Desa Gejayan, Gunung Merbabu dan Balai Seni Desa Tutup Ngisor, Gunung Merapi, Magelang. Pada 2014 Sang Hyang Kamahayanikan Award diserahkan kepada Peter Carey. Seorang sejarawan Inggris yang mendarmabaktikan hidupnya untuk meneliti riwayat Pangeran Diponegoro. Pada 2015 BWCF mengangkat tema, “Gunung, Bencana, dan Mitologi di Nusantara”. Penerima Sang Hyang Kamahayanikan Award 2015 adalah Nigel Bullough, sosok yang mengabdikan dirinya untuk meneliti masa silam Nusantara. Hingga kini, BWFC sudah empat kali diselenggarakan, dan di tahun 2016 ini akan segera di selenggarakan ke lima kalinya dan mengusung tema budaya – budaya klasik Nusantara. Tema yang di angkat kali ini “Setelah 200 Tahun Serat Centini”  Erotisisme, Religiusitas Dalam Kitab-Kitab Nusantara.

Baca Juga:  Alasan kenapa orang dilarang untuk minum kopi saat perut kosong

Bagi kalian para penulis, akademisi, peneliti sejarah, arkeolog, pecinta sejarah, mahasiswa, jurnalis, dan masyarakat umum siahkan mendaftarkan diri, ini merupakan kesempatan besar untuk berdialog lintas batas di perayaan karya karya Borobudur Writers & Cultural Festival.


RUNDOWN BOROBUDUR WRITER & CULTURAL FESTIVAL 2016

Comments
To Top