Artikel dan Tulisan

Geschiedenis Stad (Sejarah Kota)

Kota Batavia Tahun 1650 Sebagai Kota Modern Pertama Di Nusantara (sekarang NKRI). Sumber: Donal Maclaine Campbell, Java: Past and Present, (London: William Heinemann,1995) (dalam Basundoro, 2012:92).

Kota merupakan suatu tempat bagi berbagai macam kehidupan manusia, mulai dari segi ekonomi, sosial, dan budaya yang sangat komplek. Sebgai suatu wadah yang sangat komplek ini haruslah memiliki tata ruang kota yang nyaman dan aman. Sebuah rencana sangtlah penting untuk mengantisipasi terjadinya kesalahan, kegagalan maupun keberhasilan dalam merancang tata ruang kota. Sebelum kita melihat kota-kota di Indonesia saat ini alangkah indahnya jika kita mengetahui seperti apa dulunya kota kota yang sekarang berkembang pesat ini. Yuk nostalgia sama mimin… 😀 Sebelum nostalgia, mimin ingatkan dulu ya… jangan menganggap sejarah membosankan, jika kita tak tahu sejarah pasti akan sedikit susah untuk berbicara masa depan… hehehe

Pertanyaan yang sangat mendasar mengenai kota adalah kapan sih kota itu muncul? Menurut Basundoro (2012:19) munculnya kota sekitar 3500 SM atau 4000 SM. Kota tertua ini muncul di daerah Irak bagian Selatan. Munculnya kota biasanya dikaitkan dengan desa, yaitu bahwa kota merupakan konsekuensi logis dari perkembangan sebuah desa. Pada awalnya kota-kota merupakan desa dan tempat bermukim para petani. Dengan dimulainya budaya bercocok tanam, orang orang mulai menetap di wilayah tertentu yaitu desa, mereka saling berhubungan, berkomunikasi dan hingga akhirnya melahirkan akumulasi pengetahuan yang melahirkan kota.

Di Nusantara yang sekarang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia awal mula kota sudah ada sejak zaman kerajaan. Terbentuknya kota-kota tak lepas dari adanya permukiman-permukiman di daerah-darah nusantara, daerah-daerah tersebut ada yang menjadi Kota karena dorongan tertentu. Dorongan itu bisa berupa adanya interaksi dari dunia luar. Menurut Wiryomartono (1995:15) di Jawa konsep awal tentang kota mengacu pada konsep negara dan kuta atau khita. Konsep negara pada zaman Mataram mengacu pada pusat kekuasaan di mana raja bertempat tinggal. Keraton tempat tinggal raja beserta kerabatnya berada dalam titik lingkaran inti yang disebut negara. Di dalam lingkaran negara ada tempat tinggal abdi dalem, bangsawan dan kerabat raja, atau dalam negara yang modern disebut dengan kawasan aparatur birokrasi negara. Istilah negara biasa disebut dengan kutaatau khita sehingga muncul kuta gara atau kuta negara.

Dewasa ini kita sering mendengar atau mendefinisikan kota tua atau kota lama karena didalamnya terdapat bangunan gedung gedung ber-arsitektur Eropa, seperti di Jakarta ada Kota lama yang berada dikawasan museum fatahillah dan di Malang ada di daerah Jl. Idjen Boulevard, Gereja Kayu Tangan. Padahal lebih tepatnya kota lama sudah ada sejak zaman kerajaan. Menurut Basundoro (2012:41) temuan arkeologis yang menunjukan adanya kawasan yang bisa dikategorikan sebagai kota lama antara lain di Trowulan yang disinyalir merupakan ibu kota Kerajaan Majapahit, Banten yang merupakan ibu kota Kerajaan Bnaten, Kotagede yang merupakan ibu kota Kerajaan Mataram awal. Ada juga kawasan yang di anggap sebagai kota lama namun tidak menyisakan reruntuhan atau sisa arkeologis seperti misalnya ibu kota Kerajaan Singhasari.

Indonesia dahulu pernah diduduki orang Belanda, dalam Sejarah Nasional Indonesia disebut dengan masa Kolonial. Di masa inilah awal mula tata ruang kota kolonial, adanya bangunan-bangunan ber-arsitektur Eropa khusunya Belanda dan dianggap sebagai fase baru kota di Indonesia. Basundoro (2012:85: menyebutkan kota kolonial pertama adalah Batavia yang di bangun pada 1619.


Pembangunan kota Batavia pun tak serta merta dibangun hal ini juga melalui proses yang lama terhitung dengan pertama kali kedatangan Belanda di Batavia atau Jayakarta. Kedatangan pertama Belanda di Batvia pada tahun 1596 bertujuan untuk berdagang, meraka membangun gudang gudang kayu dan mengembangkan bisnis perdaganganya. Semakin lama perdagangan Belanda mengaami kemajuan dan secara otomatis orang Belanda bisa desebut sebgai bangsawan karena memiliki usaha dagang yang maju dan banyak terdapat gudang-gudang sekaligus benteng. Menurut Basundoro (2012:87) Kedudukan orang Belanda semakin kuat karena diangkatnya Jan Pieterszon Coen menjadi Gubernur jendral pada tahun 1618. Hanya sela setahun mereka sudah bisa menguasai Batavia dan tahun 1619 membangun Kota kolonial pertama yaitu kota Batavia.

Berawal dari kota Batavia untuk kota pertama kolonial, Belanda semakin kuat pengaruhnya di Indonesia akhirnya banyak kota kota tersebar bangunan Belanda. Nama nama perencana (Planer) dari Belanda yang identik dengan kota adalah C. Citroen yang merupakan perancang kota Surabaya, Scoemaker yang membangun Kota Bandung, dan Herman Thomas Kartsen yang merancang dan membangun Kota Malang dan Semarang. Tata ruang kota kolonial, memiliki ciri yang hingga sampai saat ini kita masih bisa melihat sisa-sisa hasil dari perencanan kota kolonial. Cirinya tata ruang kota berbentuk kotak kotak yang memisahkan antar etnis, misalkan saja kawasan pecinan Chinese kamp yang berpenghuni adalah etnis China, Arabisceh kamp berpenghuni etnis Arab, kawasan melayuMalaise Kamp yang berpenghuni orang melayu dan kawasan orang orang Eropa sendiri khususnya Belanda, sedangkan Bumi Putra tercecer di sisa sisa lahan kosong.

Kita bisa melihat kawasan kawasan bekas perencanaan kota kolonial, misalnya di Surabaya dan di Malang. Di Surabaya daerah kawasan wisata ziarah Sunan Ampel masih didominasi oleh etnis Arab atau keturunan Arab. Menuju kesebelah selatan kota Surabaya yang sering disebut sebagai kota pendidikan dan kota bunga yaitu, Kota Malang. Pada masa kolonial, tata ruang kota yang dirancang oleh Herman Thomas Kartsen pun tidah jauh berbeda dengan kota kota yang dirancang orang Belanda adanya pemisahan atau kotak-kotak berdasarkan etnis. Hasil dari tata ruang kota kolonial pun sampai saat ini masih bisa kita lihat misalnya di daerah Pecinan masih didominasi oleh orang-orang cina dan Tionghoa.

Daftar pustaka

Basundoro, Purnawan. 2012. Pengantar Sejarah Kota. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Wiryomartono, A.B.P. 1995. Seni Bangunan dan Seni Binakota di Indonesia: Kajian Mengenai Konsep, Struktur, dan Elemen Fisik Kota Sejak Peradaban Hindhu-Budha, Islam hingga Sekrang. Jakarta: Gramedia.

Sumber: City Care Community

 

Comments
To Top