Artikel dan Tulisan

Japung Nusantara – Jaringan Kampung Nusantara

by Albert Sukmono

japung_logoJaringan Festival Kampung Nusantara (JFKN) yang dikenal dengan Japung Nusantara, merupakan jaringan kampung yang disusun/ dipelopori oleh Redy Eko Prastyo sebagai ruang ketahanan budaya, ekonomi dan penguatan entitas sebagai masyarakat Nusantara. Berangkat dari pengembangan kampung yang diarahkan menjadi Kampung Budaya yang berada di Sumberejo Kalisongo Malang Jawa Timur dengan Kampung Cempluk. Dengan suksesnya acara Festival Kampung Cempluk #1 sampai yang ke #6 tahun kemarin pada tahun 2015, mendapat banyak apresiasi yang bagus dari kalangan masyarakat sekitar Malang sampai luar kota. Pada tahun ini Deklarasi Jaringan Festival Kampung Nusantara dilaksanakan di Banyuwangi bertepatan pada hari Minggu sore tanggal 17 januari yang dihadiri oleh sejumlah seniman Indonesia dan luar negeri.

Jaringan Festival Kampung Nusantara itu terdiri dari Festival Kampung Cempluk Malang, Festival Jati 7 Jawa Barat, Festival Lima Gunung Jawa Tengah, Festival Kampung Pecinan Malang, Festival Kampung Rengel Tuban. Selain itu juga ada Festival Kampung Paser Kalimantan Timur, Festival Kampong Temenggungan, Festival Karawang Art Village dan Festival Kampung Celaket.

Para seniman mendeklarasikan Jaringan Festival Kampung Nusantara di depan Pendopo Kabupaten Banyuwangi. Deklarasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Festival Kampong Temenggungan yang berlangsung 16-17 Januari 2016.

Ketua Jaringan Festival Kampung Nusantara, Redy Eko Prastyo, mengatakan, jaringan tersebut berbasis seniman dan kampung-kampung yang bersepakat mempertahankan budaya lokal. Menurut Redy, pertunjukan seni sebenarnya tidak eksklusif di gedung seni atau kampus. “Kami mengajak seniman-seniman untuk menggelar kesenian di kampung-kampung,” kata Redy kepada Tempo, Minggu, 17 Januari 2016.

jp


Para seniman yang ambil bagian dalam deklarasi tersebut yakni antara lain Gilles Saisi (gitaris) asal Prancis, Marios Manelaou (basis etno) asal Cyprus, Isi Wolf (pemain light clarinet) dari Inggris, Sarka Bartuskova (penari) dari Republik Ceko serta dua seniman Lithuania, Matilda Minibrook (fire dancer) dan Lucas Paltanavicius (pemain violin).

Sedangkan musisi Indonesia yang berencana tampil di antaranya berasal dari Bali, NTT, Kalimantan Timur, Bali, Bandung, Yogyakarta, Solo, Tuban, dan Malang.

Menurut Redy, dari sembilan kampung yang bergabung, Festival Lima Gunung adalah tertua. Festival yang telah berusia 14 tahun itu digelar oleh kampung-kampung di sekitar lima gunung di Jawa Tengah seperti Gunung Dieng, Sumbing, dan Merbabu.

Konsep festival kampung, kata Redy, adalah bagaimana mengangkat potensi budaya lokal warga kampung dalam bentuk festival. Termasuk juga mengkolaborasikan kesenian lokal dengan seni daerah lain di Indonesia dan mancanegara. “Sehingga ada interaksi antar seniman dengan warga kampung,” kata penggagas Festival Kampung Cempluk Malang ini.

japungAntar pelaku seni setiap kampung festival saling mendukung sebagai pengisi acara. Jaringan ini diperluas dengan memanfaatkan media internet sehingga pertunjukan seni bisa disaksikan disiarkan ke seluruh dunia.
Ketua Kampung Wisata Temenggungan (Kawitan) Eko Raskito, mengatakan, konsep festival kampung memperkaya wawasannya dalam bermusik. “Warga kampung akhirnya jadi tahu alat musik daerah lain,” kata ketua grup gamelan Banyuwangi Putra.

Menurut Eko, kolaborasi antara musik etnik dan kontemporer tidak akan membuat budaya asli hilang. Sebaliknya, malah memperkuat kehadiran kesenian lokal. “Seniman asing sangat menyukai alat musik tradisional Indonesia,” kata dia.

 

Comments
To Top